Sabtu Wage, 2 Juli 2022
2 Dzulhijjah 1443 Hijriyah


Bertempur Melawan Jin Ganas Gua Seulawah Agam


bertempur melawan jin

Beberapa puluh tahun yang lewat, aku mendapat petunjuk gaib melalui mimpi. Adapun inti dari petunjuk itu menyatakan bahwa aku diangkat murid oleh tokoh yang sangat sakti yakni Tengku Di Batee. Dan untuk proses penempaan, aku disuruh melakukan tapa di sebuah gua yang berada di gunung seulawah agam. Singkat cerita, aku segera melaksanakan petunjuk gaib itu. Setelah melalui perjalanan panjang serta penuh rintangan, baik rintangan dari alam nyata maupun gaib, akhirnya sampai juga aku di ternpat yang dimaksud, gua Seulawah Agam. Gua itu tertutup oieh akar~akar kayu, tersembunyi di batik batu-batu sebesar gajah. Setelah mengucapkan salam, aku melangkah perlahan-lahan memasuki gua yang tampak tua dan mungkin tidak pernah didatangi manusia itu. Segerombolan kalajengking berlarian, sementara di atas kepala segerombolan kelelawar bercicit terbang ke luar, karena terganggu oleh kehadiranku.

Dalam gua yang gelap itu, berkali-kali tanganku meraba sesuatu yang dingin. Ternyata ular-ular yang tidak nampak dari jenis apa. Binatang mendesis itu rupanya banyak di dalam gua, tetapi mereka tidak mengganggu. Aku semakin terbiasa dengan suasana gelap dalam gua, dan sedikit demi sedikit dapat melihat keadaan di sekitar. Tidak ada sinar yang masuk ke dalamnya. Udaranya pengap dan tanahnya lembab karena dari batu-batu dinding gua itu air terus menetes. Kira-kira di kedalaman seratus meter, aku menemukan sebuah ruangan kosong. Jaring laba-laba menghias di sana-sini. Setelah menemukan batu besar, kuputuskan untuk tinggal di situ.

Demikianlah, di atas batu tersebut aku duduk bersila sambil berpuasa, serta berdzikir sebanyak-banyaknya. Tetapi pada waktu-waktu tertentu menurut perkiraanku, aku melakukan shalat lima waktu. Kukerjakan semua itu setiap hari, sambil menunggu saat-saat guru tiba. Entah sudah berapa hari berada dalam gua itu, ketika aku tiba-tiba melihat barisan cahaya api obor memenuhi ruangan gelap, seperti berdemonstrasi mendatangiku. Aku tidak dapat menghitung berapa banyak obor itu dan tidak begitu jelas puia, siapa yang memandunya. Obor-obor ini seperti barjalan sendiri. Hanya beberapa saja yang tampak seperti ada yang memegangnya. Tapi bayangan itu mirip wajah tengkorak, berambut kusut dengan mata bolong. Seraut wajah perempuan tua, nampak menggapai-gapai di antara obor-obor yang menyala berwarna kuning, merah dan kebiru-biruan. Seraut wajah lebih nyata lagi adalah sebagai lelaki, tangannya bergerak-gerak memberi komando.


Baca juga :

Kelopak matanya yang bolong menerbitkan cahaya putih, dan tubuhnya dibalut dengan jubah seperti kabut. Kulihat juga beberapa wajah lainnya yang seram, dengan giginya yang bertaring. Mereka berjingkrak-jingkrak mengitari tempat dudukku, sambil bersorak-sorai dan menuding-nuding ke arahku. Aku tetap duduk dengan tenang, memusatkan pikiranku pada niat. Kupasrahkan diri semata-mata kepada Allah! Tetapi jin-jin penggoda itu semakin menggila, menyerang dan menyerangku. Kendati demikian, serangan mereka tidak satu pun yang menyentuh tubuhku. Barisan obor setan itu kemudian memutari tempatku sambil berteriak-teriak dengan suara aneh yang tidak kumengerti. Tapi sikap pemberontak itu, kukira sebagai protes yang dilancarkan untuk mengusirku dari tempat ini. Dan tiba-tiba, obor-obor tersebut dilemparkan kepadaku. Aku cepat mengelak agar tidak menjadi korbannya. Tapi obor-Qbor ini kemudian lenyap tanpa bekas. Dan bersamaan dengan itu, makhluk-makhluk gaib tersebut berlarian tunggang-langgang, menghilang di ujung gua. Sesaat kemudian, munculah makhluk raksasa yang berwajah lebih mengerikan. Tangannya sebesar pohon pinang, giginya tajam seperti kampak, dan wajahnya penuh bulu kasar seperti ijuk.

Kukira inilah yang menguasai gua Seulawah Agam. Sikapnya tampak angkuh dan ditakuti oleh setan-setan lainnya. Dia berdiri di depanku dengan sikap siap melumat. Menghadapi ancaman yang begitu hebat, ketabahanku hampir tergoyah. Namun tiba-tiba aku mendengar sebuah bisikan halus di telingaku, ”Jangan takut, hadapilah dengan tabah! Bangkitlah dari tidurmu, hai Muchtar". Perintah itu segera aku laksanakan. Aku bergerak, kemudian menerjang. Tetapi tubuh setan raksasa itu tidak bergerak sedikit pun. Dengan sombong dia malah mempermainkan diriku. Aku disentilnya dengan ujung jari kesana-sini seperti bola bekel. Namun tiba-tiba sebuah tendanganku menyentakkannya. Tangannya yang sebesar pohon pinang menghantam dinding gua sehingga tanah berguguran. Aku sendiri tidak mengerti, dari mana tenaga sedahsyat itu kumiliki.

Aku menyeruduk kian kemari melalui celah pahanya dan tidak dapat ditangkapnya, membuat dia kerepotan sendiri. Pada suatu kesempatan dia berhasil menangkap lenganku dan diputar-putarnya. Dalam keadaan yang sangat ganting itu, nampak seperti ada bayangan berkelebat, dan tiba-tiba saja di dekatku telah nadir saorang lelaki bersorban dan berjubah putih, dengan wajah sangat berwibawa. Sorot matanya begitu kuat dan kuilit mukanya bersih serta bersinar, memantulkan kekuatan yang tersimpan di dalam pribadinya. Kata Tengku Beurabo, Tengku Di Batee seorang sakti yang bekelana di puncak Gunung Seuiawah. Beliau sudah berusia ratusan tahun. Tetapi apa yang kulihat  sekarang, seorang lelaki kekar, anggun dan sangat mempesona. Tampilannya seperti baru berusia sekitar 70 tahun saja. Aku tidak ragu lagi bahwa leiaki ini adalah yang disebut Tengku Di Batee.

“Jangan kamu binasakan muridku! Ayo,lepaskan segera” katanya tegas. ”Siapa dirimu berani menghalangiku?" jawab makhiuk tersebut. “Tidak panting kamu ketahui siapa diriku, hai jin Kongkong! Tapi jangan anggap aku tidak mengenai siapa engkau. Nenek moyangmu, seratus tahun yang lalu, kupunahkan di gua ini.” Mendengar keterangan itu setan raksasa tersebut tampak sangat terkejut. Laiu katanya, "Jadi engkaulah yang sudah membinasakan leluhurku, he? Kau manusia sakti yang menguasai Gunung Seulawah ini? Kamu yang bernama Tengku Di Batee?"

Jin Kongkong itu semakin ganas memperlakukan diriku. Dia memelintir tanganku, lalu melemparkannya ke atas. Tubuhku menubruk atap gua dengan keras. Bersamaan dengan jatuhnya reruntuhan, dia menangkap kembali tubuhku. Sekarang tampak giginya gemeretak. Dia hendak mengoyak-ngoyak tubuhku. Tetapi sebuah sinar seperti kilat menyambar tangan setan raksasa itu. Dia menjerit keras dan aku terlepas. Satan itu kemudian berbalik dan menyerang Teungku Di Batee. “Kebetulan kau hadir di tempat ini sekarang. Aku akan membuat perhitungan denganrnu. Aku akan menuntut balas atas kematian nenek moyangku dulu,“ kata jin Kongkong sambil menerjang Tengku Di Batee yang tegak di tempatnya semula. Tidak seciikit pun dia beranjak dari tempat itu ketika jin Kongkong menyerang. Dia hanya menepis dan menggerakkan tangannya saja, namun itu sudah cukup membuat setan raksasa tersebut terpental dan tidak pernah sampai menjamah tubuh sang guru.

Serangan-serangan jin Kongkong secara fisik tidak mampu menumbangkap Tengku Di Batee. Jin itu jadi penasaran. Dia laiu mengambang di udara dan mengubah wujud menjadi ribuan kelelawar sebesar burung elang. Suara hiruk-pikuk memenuhi gua, kelelawar jadi-jadian itu kemudian menyerang seperti layaknya pasukan tempur. Tetapi kulihat Tengku Di Batee hanya menyapukan kedua belah tangannya saja dan kelelawar itu hancur berkelompok tersapu angin puting beliung. Setelah pasukan kelelawar dilumpuhkan, kini muncul pula pasukan lainnya terdiri dari beribu-ribu makhluk gaib dengan bentuknya yang bermacam-macam. Jin Kongkong tertawa dan berteriak-teriak memberi semangat pada anak buahnya.

Serbuan itu sungguh dahsyat sekali! beribu-ribu makhluk gaib itu terus-menerus muncul dari ujung gua. Punah satu, muncul seribu. Aku yang menyaksikan semua itu di balik sebuah batu besar menjadi tegang, khawatir sang guru akan kalah. Namun Tengku Di Batee nampak tetap tegak dengan tenang, seperti tidak ambil pusing meskipun serangan gaib yang menyerbu ke arahnya kian banyak. Dan kenyataanya, daiam sekejap saja pasukan jin penyerbu itu punah semua, hangus disambar sinar kemilau yang sangat dahsyat yang muncul dari tangan Tengku Di Batee. Tinggal jin Kongkong yang kini kembali ka dalam wujud semula, tampak kecewa karena anak buahnya banyak yang mati. Dia berjingkrak-jingkrak di atas bangkai-bangkai yang berserakan. Dia pun mengagagumi kehebatan lawannya, namun tidak mau mengaku kalah. "Tidak biasanya jin dikalahkan oleh manusia. Sekarang kulihat sendiri  kehebatanmu. Tentunya kau bukan orang biasa. Siapa sebenarnya kau? Kalau berasal dari golongan bangsa jin, aku akan menyembah padamu. Namun kalau kau manusia, aku tidak akan menyerah!" kata Jin Kongkong gemas. 

“Terserah padamu. Kau boleh anggap diriku siapa saja. Yang jelas, sekarang aku hadir di tempat ini untuk seorang manusia, muridku!". Jin raksasa itu menjadi kalap. Dia menyerang dengan membabi buta. Tengku Di Batee hanya mengebutkan jubahnya lalu muncul hawa panas yang membakar. Namun jin Kongkong tidak peduli, dia terus menyerang. Tengku Di Batee kemudian mengeluarkan sesuatu dari pinggangnya. Benda itu mengeluarkan sinar yang menyilaukan. Jin Kongkong tidak mampu menatap sinar tersebut, dia berusaha menutup mukanya. ”Dengan ini nenek moyangmu dulu kupunahkan. Sekarang giliranmu, hai makhluk terkutuk!" kata Tengku Di Batee. “Jangan, jangan kau siksa aku dengan benda itu, jangan...jangan!" teriak jin Kongkong sambil mundur.

Tengku terus bergerak mengikuti jin Kongkong yang kehabisan tenaga karena terserap oleh kekuatan yang tersimpan dalam benda ajaib itu. “Kau akan kuantar ke tempat nenek moyangmu,” Kata Tengku sambil memelintir tangan setan raksasa itu. “Ampuni aku, guru yang sakti,“ hiba jin Kongkong. “Sudan teriambat! Sekarang kau kukirim ke neraka! Di sana tempatmu yang abadi, yang disediakan Tuhan untukmu." Tengku Di Batee menghantamkan benda itu ke tengkuk jin Kongkong. Kemudian terdengar jeritan berkepanjangan, dan tubuh jin kongkong semakin menciut terbakar hangus dan akhirnya hanya tinggal debunya saja.

Aku menyaksikan betapa perkasa dan saktinya seorang anak manusia yang bernama Tengku Di Batee itu. Sungguh aku sangat mengaguminya. Aku keluar dari tempat persembunyian di baiik batu. Aku akan menghadap guru untuk menyampaikan rasa terima kasih, karena beliau sudah menyelamatkan aku dari kematian. Tetapi alangkah terkejutnya ketika aku tiba di tempat itu, guru sudah tidak ada. Dalam gua tinggal aku sendiri. “Guru...guru!" aku memanggilnya. Tidak ada suara yang menyahut. Suasana dalam gua kembali tenang, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Aku kebingungan dan hampir saja kehilangan arah. Tiba-tiba kudengar sebuah bisikan di ujung telingaku, “Muchtar! Lanjutkan niat dan tirakatmu sampai dua minggu Iagi. Hadapilah dengan tabah segala macam rintangan dan godaan, karena itu adalah sebagian dari ujian. Apa yang kau lihat dan alami, belum seberapa. Dirimu harus ditempa, supaya kelak kau benar-benar sebagai muridku yang mumpuni. Legkapilah dirimu dengan iman dan taqwa, tanpa ragu-ragu, terhadap Sang Khaliq Yang Satu! Aku hanya dapat menuntunmu, membina dan mengajarmu, selagi jiwamu bersih! Kuharap kau tabah dan yakin, agar dapat memetik hikmah dariku. Kelak kau akan menjadi utusan dari Seulawah, untuk menghadapi setan-setan yang telah menyebabkan terjadinya berbagai macam kekejian dan kemunkaran."

Itulah secuil kisah tentang awal petualanganku. Kukira, aku tidak usah menceritakan pada Anda saat-saat terakhir aku bertapa di gua itu. Yang jelas, kini aku sudah lulus dan menjadi murid Tengku Di Batee. Tugasku menjalankan kewajiban-kewajiban kemanusiaan, sebatas yang dapat diperbuat oleh seorang manusia lemah seperti diriku.








HANACARAKA

Hanacaraka atau Hanacarana merupakan aksara jawa sebanyak 20 huruf dalam bentuk carakan. Hancaraka secara harfiah berarti ada utusan dari Tuhan yakni seorang laki dan perempuan.

FANA

hilang saat berdzikir, "menyatu" dengan Tuhan, manusia mengalami kefanaan dii. Dalam kefanaan seseorang banyak mengalami pengalaman spiritual.



Advertorial

Grup Telegram Dunia Gaib

belajar metafisika