Kamis Kliwon, 3 April 2025


Mengungkap Hakekat Ibadah Haji


hakekat ibadah haji

Secara syariat haji adalah perjalanan menuju baitullah atau rumah Allah yang disimbolkan dalam bentuk Ka'bah yang terletak di pusat Masjidil Haram, Kota Mekkah, Arab Saudi. Adapun pengertian haji secara hakekat adalah bahwasanya baitullah/rumah Allah itu terletak di dalam qolbu/hati manusia yang beriman. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW : "Qolbun mukmin baitullah" yang artinya qolbunya orang mukmin adalah rumahnya Allah. Dalam pengertian yang lebih mendalam, hakekat haji adalah perjalanan meniti ke dalam diri yang wajib dilakukan oleh manusia sebagaimana firman Allah dalam Al Quran : (Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah (Ali Imran : 97).

1. IHRAM

Saat haji, kita berkain ihram dengan tanpa jahitan. Hakekat jahitan adalah selama ini manusia memiliki kemelekatan pada selain Allah seperti harta, tahta dan keluarga. Kecintaan pada selain Allah terjahit pada diri kita sehingga kita menjadi manusia yang tidak bertauhid kepada Allah karena memiliki kecintaan kepada selain Allah. 

Dengan memakai kain ihram yang tanpa jahitan artinya kita diperintahkan untuk melepas kemelekatan atau kecintaan kepada selain Allah. Kain ihram juga merupakan simbol kesetaraan bahwa siapapun orangnya, apapun jabatannya mulai dari rakyat jelata hingga penguasa tetap harus memakai kain ihram yang sama.

2. TAWAF

Tawaf yaitu memutari kabah tujuh kali. 

- Tujuh kali merupakan simbol dari sifat Allah yaitu 7 sifat ma'ani : qudrat (berkuasa), iradat (berkehendak), ilmu (mengetahui), hayat (hidup), sama' (mendengar), bashar (melihat) dan kalam (berkata). Sifat inilah yang terinstall di dalam diri dan perlu dikaji oleh manusia.


Baca juga :

- Putaran tawaf ternyata berlawanan arah jarum jam, Kenapa?  karena merupakan simbol bahwa manusia hendaknya ingat untuk pulang kembali ke Allah (ilaihi rojiun) dengan menyadari adanya 7 sifat ma'ani yang ada di dalam diri manusia. Bahwasanya 7 sifat tersebut bukanlah milik manusia, maka pulangkanlah kembali kepada yang memiliki semua itu yaitu Allah SWT.

- Saat tawaf ada tiga tempat penting yaitu Hijir Ismail, Maqom Ibrahim dan Hajar Aswad yang merupakan simbol dari Ismail (anak), Ibrahim (bapak) dan Siti Hajar (ibu). Ini artinya adalah agar manusia hendaknya setelah berhaji menjadikan keluarganya sakinah dan terbebas dari api neraka dengan mencontoh keluarga Nabi Ibrahim. Kata Ismail berasal dari kata sama' yang artinya mendengar jadi hendaklah kita menjadi pribadi yang lebih banyak mendengar. Maqom Ibrahim artinya tingkatan Ibrahim. Ibrahim artinya "sumber kasih sayang" jadi pada tingkatan Ibrahim hendaknya kita menjadi pribadi yang memiliki kasih sayang kepada sesama.

- Tawaf dimulai dari hajar aswad yang merupaka simbol dari siti hajar (ibu). Artinya kita semua berasal dari rahim seorang ibu. Mencium hajar aswad merupakan simbol agar kita berbakti kepada ibu. Konsep kemuliaan seorang ibu diajarkan oleh Nabi Muhammad dimana dijaman itu, perempuan sama sekali tidak dihargai bahkan jika terlahir bayi perempuan maka bayi tersebut bisa dibunuh. Jadi dengan konsep ini, Nabi ingin mengangkat derajat perempuan.

Kemudian, lahirnya kita dari rahim ibu asalnya adalah dari air mani (maul hayat) yaitu air kehidupan yang menjadikan janin fisik bertumbuh dan kemudian dengan ditiupkannya Ruh ke dalam rahim maka janin tersebut hidup. Baik badan fisik dan ruhani manusia semuanya berasal dari Nur Muhammad dan Nur Muhammad tiada lain berasal dari Allah. Allah adalah Dzat dan Nur Muhammad adalah Sifat namun keduanya adalah Esa karena yang wujud hanyalah Allah dan tidak ada wujud lain selain daripadaNya.

3. SAI 

Sai yaitu berjalan mulai dari bukit Safa ke bukit Marwah sebanyak tujuh kali perjalanan dimana sejarahnya adalah Siti Hajar mencari air untuk anaknya Ismail dengan mencari air diantara bukti safa dan marwah. Setelah mencari-cari sebanyak 7 kali, ternyata air itu berada dibawahnya Ismail. Air merupakan sumber kehidupan sehingga Sai hakekatnya adalah perjalanan mencari Sang Maha Hidup dan Sang Maha Hidup itu tidak perlu dicari kemana-mana karena Tuhan itu meliputi segala sesuatu. Tuhan tidak perlu dicari ke atas langit, ke bawah bumi, ke gua, ke gunung, ke tempat keramat dan lain-lain karena Tuhan selalu bersama kita dimana saja kita berada. Kedekatan Tuhan dengan manusia telah dijelaskan dalam Al Quran : 

•    "Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya" Surat Qaf : 16)
•    "Sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu" (Fushshilat : 54)
•    "Allah selalu bersamamu di manapun berada" (Al Hadid : 4)
•    "sesungguhnya Tuhanmu meliputi segala manusia" (Al Isro : 60) 

4. WUKUF

Puncak dalam ibadah haji adalah wukuf di padang arofah. Wukuf artinya berhenti/diam/hening, padang arofah artinya tempat untuk mengenal. Maksudnya adalah untuk mengenal Allah (makrifatulah) adalah dengan cara hening/diam. Dengan kita hening maka fokusnya adalah kepada diri sendiri sehingga Rasullulah bersabda : "barang siapa mengenal diri maka akan mengenal Tuhannya". Dalam hadist lain juga dikatakan : "Barang siapa mencari Tuhan diluar daripada dirinya, maka ia berada dalam kesesatan yang jauh". Jadi untuk mengenal Tuhan tidak ada cara lain selain mengkaji ke dalam diri sendiri dengan mengenal sifat-sifat Allah (Sifat 20) dan memahami hakekat syahadat melalui sejarah penciptaan manusia.

5. TAHALUL

Tahalul disimbolkan dengan memotong rambut. Secara hakekat mengandung artinya kita harus memotong atau memutus diri kita dari keakuan diri yang merasa memiliki ini itu, merasa bisa melakukan ini-itu, merasa dirinya ada/hidup, merasa dirinya yang berkehendak, berkuasa, mendengar, melihat, berkata. Manusia hendaknya melepas keakuan diri yang merasa punya kuasa, kehendak, berilmu, hidup, mendengar, melihat dan berkata. Bahwasanya manusia digerakan oleh Allah melalui sifat tersebut dan sadarilah bahwa manusia hanyalah wayang atau bayang-bayang. Manusia tidak memiliki daya dan upaya melainkan semua itu asalnya dari Allah. Inilah bentuk memurnikan jiwanya dari keakuan diri sehingga mampu kembali kepada Allah. 

6. TERTIB

Hakekatnya dalam berislam harus tertib dan kaffah (menyeluruh). Dimulai dari mempelajari syariat, tarekat, hakekat dan makrifat. Jadi beribadah apapun secara syariat harus dengan hakekat juga agar ibadahnya tidak hanya secara fisik namun juga ruh karena manusia itu tidak hanya jasmani namun juga ruhani. Ibadah tanpa ruhani adalah ibadah yang tanpa bertauhid sehingga banyak yang tidak menyadari ibadahnya masih ada kemusrikan didalamnya. 

Dalam Quran dikatakan "Tidak kuciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku" (Adz-Dzariyat : 56). Ayat ini mengandung arti bawah ibadah tidak hanya soal ibadah wajib (mahdhah) tapi juga aktivitas apapun (ghairu mahdhah) harus disertai dengan bertauhid agar apapun yang dilakukan semuanya mengandung nilai ibadah. Jika ibadah hanya soal menyembah tentu kita tidak beda dengan malaikat padahal manusia memiliki tugas yang lebih luas yaitu menjadi khalifah dimuka bumi. 

Bertauhid adalah satu-satunya cara agar selamat di akherat jadi pastikan ibadah dan aktivitas yang kita lakukan senantiasa bertauhid yaitu menyadari bahwa yang menggerakan kita sholat, puasa, zakat, sedekah, haji adalah Allah. Yang menggerakan kita dalam beraktivitas sehari-hari tiada lain hanyalah Allah. Yang bisa memberikan manfaat dan mudhorot hanyalah Allah. Jadi intinya adalah kita harus bertauhid murni yaitu meniadakan apapun selain Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Pentingnya bertauhid dalam ibadah dijelaskan juga ulama besar Imam Al-Ghazali dan Syaikh Muhammad At-Tamimy rahimahullah :

Imam Al-Ghazali berkata: "Tidak sah ibadah (seorang hamba) kecuali setelah mengetahui (mengenal Allah) yang wajib disembah". Jadi jika belum mengenal Allah dengan benar maka ibadahnya tidak sah atau belum beriman kepadaNya. Maksudnya adalah barangsiapa mengatakan "tiada tuhan selain Allah" namun Allah yang diyakininya itu berlainan dengan Allah sebenarnya maka dia telah menyekutukan Allah dengan sesuatu yang diyakininya. 

Syaikh Muhammad At-Tamimy rahimahullah membuat suatu ilustrasi yang sangat bagus mengenai syarat ibadah yang pertama, yaitu tauhid. Sebagaimana yang dikatakan oleh beliau di dalam kitabnya yang berjudul Al-Qawalidul Arba'. Beliau rahimahullah berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya ibadah tidaklah disebut sebagai ibadah kecuali dengan tauhid (yaitu memurnikan ibadah kepada Allah semata). Sebagaimana shalat tidaklah disebut sebagai shalat kecuali dalam keadaan bersuci. Apabila ibadah tadi dimasuki syirik, maka ibadah itu batal. Sebagaimana hadats yang masuk dalam thaharah."








PENDOK

berfungsi sebagai pelindung atau pelapis gandar, yaitu bagian warangka keris yang terbuat dari kayu lunak. Namun fungsi pelindung itu kemudian beralih menjadi sarana penampil kemewahan. Pendok yang sederhana biasanya terbuat dari kuningan atau tembaga, tetapi yang mewah terbuat dari perak atau emas bertatah intan berlian. Bentuk pendok ada beberapa macam, yakni pendok bunton, blewehan, slorok, dan topengan.

PUASA NGIDANG

Hanya diperbolehkan memakan dedaunan saja, dan air putih saja. Selain daripada itu tidak diperbolehkan.




RAMALAN


Grup Telegram Dunia Gaib

belajar metafisika