Senin Pahing, 12 Oktober 2026

Banyak kita saksikan pejabat negara disumpah atas nama kitab sucinya namun dikemudian hari melakukan berbagai pelanggaran hukum seperti korupsi, kolusi, nepotisme dan bermaksiat. Banyak pejabat yang memiliki ilmu agama yang tinggi, rajin ibadah namun ibadahnya tidak mampu mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar.
Nah agar agar sholatnya tidak hanya secara fisik atau sekedar gugur kewajiban maka diperlukan upaya meningkatkan kualitas sholat agar mencapai derajat sholat yang tinggi dan dapat mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar.
Di dalam tradisi para arifin (orang-orang yang mengenal Allah), shalat bukanlah sekadar ritual gerak tubuh (al-ḥarakāt adž-žāhiriyyah), melainkan sebuah Mi'raj Ruhani (Mir'ājul Mu'minīn)—sebuah perjalanan pendakian jiwa dari alam material menuju Kehadiran Ilahi (Ḥaḍratullāh).
Berikut ini pandangan para ulama tasawuf muta’akhirin dan klasik (seperti Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, Imam Al-Ghazali, dan Syekh Ibnu 'Atha'illah As-Sikandari):
1. Sholat secara Syariat adalah mengerjakan sholat secara jasad/fisik dengan berbagai gerakan dengan mengikuti penjelasan ilmu fiqh mazhab Imam Syafei malalui 13 Rukun Shalat mulai dari niat hingga salam. Ini adalah sholatnya kebanyakan orangdan inilah kenapa banyak orang rajin beribadah dan nampak sholeh namun masih korupsi, melakukan suap menyuap, suka mengambil harta yang bukan haknya, suka bermaksiat dll. Jadi jika sholatnya hanya pada tingkatan jasad (tidak masuk ke qolbu/ruhaninya) maka sholatnya tidak berbekas pada peningkatan akhlakul karimah.
2. Sholat secara Tarekat adalah sholat yang tidak hanya secara fisik namun juga menghadirkan Qolbu saat sholat. Inilah yang disebut sholat khusyu' yang dapat mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar.
"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya." (QS. Al-Mu'minun: 1–2)
"Dan dirikanlah (sholat) karena Allah dengan khusyuk" (QS. Al-Baqarah: 238)
"Sesungguhnya sholat itu dapat mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar." (QS Al Ankabut : 45)
Agar bisa sholat khusyu harus berlatih tazkiyatun nafs (mesucikan jiwa) yaitu dengan zikir-zikir yang dapat menenangkan jiwa dan menembus kepada qolbunya sebab dalam hadist dikatakan "qolbun mukminin baitullah" yaitu Qolbunya orang mukmin adalah bayt-nya Allah.
Di dalam tarekat muktabaroh (yang diakui mayoritas ulama) diajarkan metode zikir yang memang sudah dibuktikan banyak orang karena pendiri tarekat adalah para wali allah yang mendapatkan ijazah langsung dari Rasulullah SAW secara ruhani sehingga memiliki sanad yang jelas.
3. Sholat secara Hakekat adalah sholat yang tidak hanya syariat dan tarekat namun juga memahami *SIAPA YANG SHOLAT* yaitu dengan cara mengenal diri atau mengenal asal usul diri secara zahir dan batin. Saat sholat *memahami apa yang harus dipersembahkan dalam sholat*.
Dengan memahami siapa yang sholat maka ini sesuai dengan ucapan para ulama : "barang siapa mengenal diri maka akan mengenal TuhanNya". Maka ketika sudah mampu mengenal Tuhan, sholatnya adalah sholat yang bermakrifat.
3. Sholat secara Makrifat adalah sholat tertinggi yang dijalankan oleh para wali/nabi. Inilah paket lengkap dalam sholat secara syariat, tarekat, hakekat dan makrifat. Sholatnya tidak lagi berharap apapun seperti pahala, surga namun murni karena Allah semata.
Ddalam sholat makrifat, kita mengenal *SIAPA YANG DISEMBAH*. Jadi yang disembah bukanlah nama Allah tapi Allah yang zahir dan batin.
"Dialah Yang Awal, Aakhir, Zahir dan batin" (QS Al Hadid : 3)
Sholat makrifat sejatinya adalah mempraktek kalimat syahadat yaitu "penyaksian" dan bukan sekedar ucapan. Sayyidina Ali berkata, "aku tidak akan menyembah Tuhan yang yang tidak aku kenal/lihat”.
Imam Malik RA: "Barangsiapa berfikih (syariat) tanpa bertasawuf (hakikat) maka ia fasik, barangsiapa bertasawuf tanpa bersyariat maka ia zindiq, dan barangsiapa menggabungkan keduanya maka dialah yang mencapai kebenaran (muhaqqiq)."
Semoga Allah SWT membimbing langkah kita agar tidak hanya menyempurnakan rukun-rukun lahiriah shalat kita, tetapi juga membukakan mata hati (baṣīrah) untuk merasakan kelezatan mi'raj ruhani menuju Hadirat-Nya. Wallāhu a‘lam bish-shawāb.