Senin Legi, 30 Maret 2026
Pertanyaan "Di mana Tuhan?" sering kali membuat kita terjebak dalam logika ruang. Kita terbiasa berpikir bahwa sesuatu yang "ada" pasti menempati tempat tertentu—seperti buku di atas meja atau awan di langit. Namun, dalam pandangan Ibnu Arabi, seorang tokoh besar dalam dunia tasawuf, jawaban atas pertanyaan ini jauh lebih dalam dan indah daripada sekadar titik koordinat.
Bagi Ibnu Arabi, Tuhan tidak berada di "sana" atau di "sini" layaknya benda. Sebaliknya, Beliau memperkenalkan konsep yang dikenal sebagai Wahdatul Wujud (Kesatuan Wujud).
Bayangkan Anda berdiri di depan sebuah cermin. Siapa yang ada di dalam cermin itu? Itu adalah Anda, namun itu bukan "zat" Anda yang sebenarnya, melainkan pantulan atau bayangan Anda.
Jika ditanya di mana Tuhan, Ibnu Arabi akan merujuk pada kedekatan yang tidak bisa diukur dengan meter. Tuhan ada "bersama" segala sesuatu, namun tidak menyatu (secara fisik) dengan sesuatu itu.
Menurut pandangan tasawuf ini, Tuhan "berada" pada setiap detak jantung kita, pada setiap helai daun yang jatuh, dan pada setiap luasnya cakrawala. Tuhan menampakkan Diri-Nya melalui ciptaan-Nya (Tajalli).
Meskipun Tuhan tidak membutuhkan tempat, ada satu "tempat" spesial di mana manusia bisa merasakan kehadiran-Nya secara utuh: Hati (Al-Qalb).
Ibnu Arabi sering mengutip sebuah Hadits Qudsi yang sangat populer di kalangan sufi:
| Konsep | Penjelasan Sederhana | Analogi / Dalil |
|---|---|---|
| Wahdatul Wujud | Hanya Tuhan yang benar-benar "Ada". Alam semesta hanya bayangan-Nya. | Benda dan bayangannya di bawah sinar matahari. |
| Tajalli | Tuhan menampakkan sifat-sifat-Nya melalui ciptaan. | Cahaya yang melewati kaca warna-warni. |
| Al-Qalb (Hati) | Pusat spiritual untuk merasakan kehadiran Tuhan. | Hati yang lapang menampung cahaya Ilahi. |
"Mencari Tuhan bukan seperti mencari kunci yang hilang di kolong meja, melainkan seperti ikan yang mencari air di dalam samudera. Air itu ada di sekelilingnya, di dalamnya, dan tanpa air, ikan itu tidak akan pernah ada."