Minggu Kliwon, 7 Juni 2026

Ada pertanyaan yang sampai hari ini belum benar-benar selesai dijawab oleh siapapun: ketika Islam datang ke tanah Jawa, apa yang sebenarnya terjadi di balik layar sejarah? Bukan di pantai-pantai tempat para pedagang berlabuh, bukan di alun-alun tempat para wali berdakwah — melainkan di lapisan yang lebih dalam, di mana dua tradisi besar berhadapan muka.
Kisah Syekh Subakir dan Sabdo Palon adalah jawaban versi tanah Jawa atas pertanyaan itu. Bukan jawaban dari buku sejarah akademik. Tapi jawaban dari babad, serat, dan tutur lisan yang dijaga selama berabad-abad oleh orang-orang yang merasa jawaban itulah yang paling jujur.
Tanah Jawa bukan tanah kosong ketika Islam datang. Ini perlu ditegaskan karena sering terlupakan.
Jauh sebelum nama Wali Songo disebut-sebut, Jawa sudah punya lapisan peradaban yang padat. Animisme dan kepercayaan kepada roh-roh alam sudah berakar sejak ribuan tahun lalu. Di atasnya kemudian tumbuh pengaruh Hindu dan Buddha yang datang dari India sejak abad ke-2 Masehi. Dua lapisan itu tidak saling menghapus — mereka menyatu, kadang dengan cara yang sulit dipisahkan.
Puncak dari perpaduan ini adalah Majapahit. Kerajaan yang berdiri sejak 1293 M itu bukan sekadar entitas politik. Ia adalah ekspresi kosmologi Jawa: raja sebagai poros bumi dan langit, upacara sebagai cara menjaga keseimbangan semesta, dan di balik semua itu — ada kekuatan-kekuatan gaib yang dipercaya menopang seluruh tatanan.
Salah satu kekuatan itu, menurut tradisi Jawa, bernama Sabdo Palon.
Dalam berbagai tradisi lisan dan teks kuno Jawa, Sabdo Palon bukan tokoh biasa. Ia disebut sebagai ratu lelembut — penguasa alam gaib tanah Jawa — yang telah ada jauh sebelum kerajaan-kerajaan berdiri. Namanya sendiri sudah berisi makna: sabdo berarti sabda atau suara, palon berarti pasak atau paku. Suara yang menancap. Kata yang tidak bisa dicabut.
Ia sering disebut bersama pasangannya, Naya Genggong. Keduanya digambarkan sebagai pamong setia — pendamping spiritual — para raja Majapahit. Bukan sekadar penasihat duniawi, melainkan penghubung antara raja dengan kekuatan-kekuatan gaib yang menjaga kerajaan.
Raja terakhir yang ia damping adalah Prabu Brawijaya V, atau Bhre Kertabhumi, yang memerintah sekitar 1468 hingga 1478 M. Di sinilah kisah mulai bergerak menuju konflik.
Menurut Babad Tanah Jawi dan sejumlah serat Jawa, sebelum Wali Songo bisa berdakwah secara efektif di pedalaman Jawa, ada satu masalah besar: tanah Jawa terlalu "keras" secara spiritual. Banyak ulama yang mencoba masuk ke Jawa mengalami hambatan luar biasa. Ada yang tidak berhasil. Ada yang mengalami nasib buruk. Alam gaib Jawa, kata para tetua, menolak kehadiran mereka.
Maka didatangkanlah Syekh Subakir dari Persia — ada versi lain yang menyebut dari Rum atau Baghdad, tapi Persia yang paling banyak disebut. Ia bukan ulama biasa dalam pengertian yang lazim. Keahliannya yang utama adalah ilmu ruqyah dan penanaman rajah — kemampuan menghadapi dan menetralisir kekuatan gaib.
Syekh Subakir keliling Jawa. Di puncak-puncak gunung, di lembah-lembah yang dianggap keramat, di titik-titik yang dipercaya sebagai simpul kekuatan alam — ia menancapkan tonggak-tonggak rajah. Satu per satu ia "membuka" tanah Jawa, membuatnya bisa menerima kehadiran Islam dan para walinya.
Ini bukan perjalanan damai. Setiap tonggak yang ia tancapkan adalah pernyataan: kekuatan lama di sini tidak lagi berkuasa sendiri.
Sekitar tahun 1478 M, Majapahit sudah di ujung napasnya. Serangan dari Demak — kesultanan Islam pertama di Jawa — menggempur dari luar. Dari dalam, konflik perebutan takhta sudah menggerogoti selama bertahun-tahun.
Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, berada dalam tekanan dari segala arah. Dan di sinilah terjadi sesuatu yang, menurut tradisi Jawa, jauh lebih besar dari sekadar pergantian dinasti politik.
Para wali — dalam beberapa versi diceritakan dengan peran aktif tokoh-tokoh seperti Sunan Kalijaga — berhasil membujuk Prabu Brawijaya V untuk memeluk Islam. Sang raja, yang sudah lelah dan terkepung, akhirnya menerima.
Sabdo Palon menyaksikan semua ini.
Menurut Serat Sabdo Palon Noyo Genggong dan Serat Darmogandul, ketika Prabu Brawijaya V menyatakan diri masuk Islam, terjadilah dialog antara sang raja dengan pamong setianya itu. Sabdo Palon menolak ikut masuk Islam. Bukan karena ia tidak mengerti — justru karena ia terlalu mengerti apa artinya.
Ia menangis. Ia menyebut bahwa dengan masuk Islamnya sang raja, ikatan antara dirinya dengan Jawa telah putus. Tugasnya sebagai penjaga spiritual tanah ini tidak bisa dilanjutkan di bawah tatanan yang baru.
"Aku tidak bisa ikut agama ini," demikian kira-kira isi tuturnya dalam berbagai versi teks. "Ini bukan agamaku. Ini bukan tanah yang sama lagi."
Ia memilih pergi. Tapi sebelum pergi, ia mengucapkan sesuatu yang kemudian dikenal sebagai sumpah besar — atau dalam beberapa teks disebut peparit.
"Kelak, setelah lima ratus tahun berlalu, aku akan kembali. Jika ada yang mencari kemerdekaan dan keselamatan tanah Jawa, carilah aku."
Lima ratus tahun. Jika dihitung dari 1478 M, maka angka itu jatuh di sekitar akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Persis di masa Kebangkitan Nasional Indonesia, ketika gerakan-gerakan untuk merdeka dari penjajahan mulai tumbuh di mana-mana.
Apakah itu kebetulan? Tidak ada yang bisa membuktikan ya atau tidak. Tapi orang-orang Jawa yang menyimpan kisah ini tentu tidak menganggapnya kebetulan.
Setelah sumpahnya diucapkan, Sabdo Palon disebut moksa — menghilang dari alam yang bisa dilihat mata biasa. Pergi ke dimensi lain, menunggu.
Yang sering luput dari pembacaan kisah ini adalah bahwa konflik antara Syekh Subakir dan Sabdo Palon bukan soal siapa yang lebih kuat secara gaib. Itu hanya permukaan.
Di bawahnya, yang sesungguhnya berbenturan adalah dua cara memahami dunia. Dua kosmologi.
Sabdo Palon mewakili tradisi yang meletakkan manusia sebagai bagian dari alam — bukan penguasanya. Harmoni dengan roh-roh leluhur, dengan kekuatan gunung dan sungai, dengan siklus waktu yang sudah berjalan sebelum manusia ada. Tanah bukan sekadar tempat berpijak. Tanah adalah kerabat.
Syekh Subakir — dan Islam yang ia bawa dalam konteks ini — mewakili tatanan yang berbeda. Satu Tuhan, tanpa perantara roh atau kekuatan gaib yang lain. Dunia bukan dipenuhi kekuatan-kekuatan yang harus dinegosiasi, melainkan ciptaan yang harus dikelola sesuai syariat.
Kedua pandangan ini tidak mungkin hidup bersama tanpa ketegangan. Dan ketegangan itu — seperti yang kita tahu dari sejarah Jawa setelahnya — memang tidak pernah benar-benar selesai.
Ada hal yang perlu dikatakan dengan jujur: teks-teks utama yang menyimpan kisah ini — terutama Serat Darmogandul dan Serat Sabdo Palon Noyo Genggong — bukan dokumen kontemporer dari zaman Majapahit.
Para sejarawan modern memperkirakan teks-teks ini sebagian besar ditulis atau dikembangkan pada abad ke-18 hingga abad ke-19, jauh setelah peristiwa yang mereka kisahkan. Beberapa nama besar dalam historiografi Nusantara — termasuk M.C. Ricklefs, sejarawan Belanda yang banyak meneliti Jawa — mencatat bahwa teks-teks semacam ini lahir dalam konteks sosial yang spesifik: masa ketika kalangan priyayi dan abdi dalem keraton merasa terdesak oleh berkembangnya Islam santri yang lebih ortodoks.
Dengan kata lain: kisah Sabdo Palon sebagian adalah ekspresi kecemasan. Kecemasan orang-orang Jawa yang khawatir bahwa identitas mereka yang lama akan tenggelam sepenuhnya.
Tapi apakah itu membuat kisah ini tidak penting? Tidak. Justru sebaliknya. Sebuah teks yang lahir dari kecemasan kolektif selama berabad-abad bisa lebih banyak bercerita tentang kondisi batin suatu masyarakat ketimbang dokumen resmi manapun.
Sampai hari ini, nama Sabdo Palon masih disebut. Di komunitas-komunitas penghayat kepercayaan, dalam diskusi-diskusi tentang identitas Jawa, bahkan sesekali muncul dalam wacana politik lokal yang mengklaim kebangkitan "jati diri" Jawa.
Kisah ini hidup bukan karena orang percaya bahwa ada makhluk gaib yang sedang menunggu di dimensi lain. Kisah ini hidup karena pertanyaan yang ada di baliknya belum selesai dijawab: apakah mungkin menjadi Muslim yang taat sekaligus orang Jawa yang utuh? Apakah Islam dan Kejawen bisa benar-benar berdamai, atau selalu ada yang harus dikorbankan?
Pertarungan Syekh Subakir dan Sabdo Palon, dalam pengertian ini, bukan peristiwa yang sudah selesai pada 1478 M. Ia masih berlangsung — dalam bentuk yang lebih senyap, di dalam hati orang-orang yang mewarisi kedua tradisi itu sekaligus.