Jumat Kliwon, 3 Februari 2023


Menyingkap Misteri Deja Vu


deja vu

Pernahkah kamu mengalami perasaan pernah melakukan kegiatan yang sama persis sebelumnya? Merasakan sebuah kondisi yang sama perisis sebelumnya? Melihat dan mendengar hal yang sama sebelumnya? Hal ini memang terkadang sangat membingungkan karena pada saat itu pula kita tidak mampu mengingat kapan dan dimana pernah melakukan kegiatan tersebut. Hal tersebut seolah-olah ada dalam mimpi namun kenapa bisa benar-benar terjadi. Inilah misteri yang biasa disebut orang dengan Deja Vu.

Berdasarkan penelitian, 70% manusia di bumi pernah merasakan Deja Vu. Jadi, fenomena psikologis tersebut adalah hal yang sangat wajar dan bukan merupakan suatu kutukan atau karma sebagaimana banyak dipercayai orang. Deja vu berasal dari bahasa Prancis yang artinya "pernah lihat". Maksudnya, mengalami sesuatu pengalaman yang dirasakan pernah dialami sebelumnya. Di Yunani, fenomena ini disebut dengan paramnesia yang merupakan gabungan kata para artinya adalah "sejajar" dan mnesia artinya "ingatan" Nama Deja Vu ini pertama kali digunakan oleh seorang ilmuwan Perancis bernama Emile Boirac yang mempelajari fenomena ini tahun pada 1876. Intinya, Deja Vu adalah keadaan dimana kita merasa pernah melakukan hal yang sama di waktu lampau. Namun kita tidak tau, kapan kita melakukannya. 

Sebenarnya, Otak kita menyimpan triliunan hal yang pernah kita lihat/dengar/cium. Namun, tak semua hal yang berada dalam otak kita bisa dibawa ke alam sadar kita atau kita ingat. Fakta tentang mimpi adalah : Semua hal yang ada dalam mimpi kita, sebenarnya pernah kita temui di alam nyata. Hanya saja tidak kita ingat. 

Contoh : Dalam mimpi, anda bermimpi dikejar-kejar orang gila yang membawa pisau. Namun, mungkin saja orang gila itu di dunia nyata adalah teman bapak anda yang anda temui pada saat anda masih berumur 3 tahun. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa Deja Vu bisa terjadi? Jangan dulu berpikiran bahwa ini adalah fenomena alam yang tidak mampu dijelaskan secara ilmiah karena para ilmuan telah menemukan jawaban akan fenomena yang ada dalam alam pikiran manusia tersebut. 


Baca juga :

Deja Vu terjadi karena adanya gelombang yang diantarkan ke dalam otak. Gelombang tersebut tercipta setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia. Gelombang ini lalu diterjemahkan ke dalam bentuk impuls listrik lalu dikirim ke otak dan dibaca. Tapi ada kalanya otak kita memiliki sensitivitas tinggi sehingga gelombang yang dibaca berupa amplitudo dan frekuensi tertentu tergantung dari kualitas otak kita. Contoh sederhananya di waktu lampau kita dalam hati mendendangkan sebuah lagu. Lalu kita menyalakan radio dan di radio sedang dimainkan lagu yang sedang kita pikirkan tadi. Langsung kita berpikir Deja Vu. Padahal, ini menunjukkan bahwa gelombang radio yang dikirim oleh stasiun pemancar, selain diterima oleh radio kita, juga dibaca oleh otak kita karena sifat otak kita yang super sensitive dalam menerima gelombang listrik itu tadi. 

Ada lagi teori lain yang menjelaskan bahwa deja vu terjadi ketika sensasi optik yang diterima oleh sebelah mata sampai ke otak (dan dipersepsikan) lebih dulu daripada sensasi yang sama yang diterima oleh sebelah mata yang lain, sehingga menimbulkan perasaan familiar pada sesuatu yang sebenarnya baru pertama kali dilihat. 

Teori yang dikenal dengan nama "optical pathway delay" ini dipatahkan ketika pada bulan Desember 2009 ditemukan bahwa orang butapun bisa mengalami deja vu melalui indra penciuman, pendengaran, dan perabaannya. Ada pula yang beranggapan bahwa deja vu ini adalah sebuah penyakit dalam ingatan sehingga semakin tua umur seseorang maka akan semakin sering pula terjadi Deja Vu. 

Seorang ilmuwan asal Jepang dan juga merupakan seorang neuroscientist MIT, Susumu Tonegawa, melakukan eksperimen terkait fenomena ini pada tikus dengan membandingkan ingatan pribadi (episodik) dengan ingatan baru yang tercatat dalam dentate gyrus. la menemukan bahwa tikus yang dentate gyrus-nya tidak berfungsi normal kemudian mengalami kesulitan dalam membedakan dua situasi yang serupa tapi tak sama. Hal ini, tambahnya, dapat menjelaskan mengapa pengalaman akan deja vu meningkat seiring bertambahnya usia atau munculnya penyakit-penyakit degeneratif seperti Alzheimer. Kehilangan atau rusaknya sel-sel pada dentate gyrus akibat kedua hal tersebut membuat kita sulit menentukan apakah sesuatu itu "baru" atau "lama". 

Teori lain menyebutkan Deja vu ditimbulkan oleh suatu alat yang bisa mengantarkan seseorang ke masa lalu. Alat itu bisa berupa apa saja. Jika alat itu ditekan, maka masa Ialu itu hadir di hadapan kita. Contoh dari teori ini terjadi pada seorang wanita dari Perancis. Suatu hari ia berniat mengunjungi rumah sahabatnya. Ketika ia melintasi jalan setapak sebuah rumah tua. la sempat terpaku beberapa meter dari rumah itu. la merasa seperti telah kenal atau berkunjung ke rumah itu. Tapi ketika dicobanya untuk mengingat-ingat ia merasa gagal untuk mengidentifikasi rumah tersebut.

Didorong rasa penasaran ia melangkah, mendekati rumah itu. Sesampainya di pekarangan rumah itu, langkahnya terhenti di suatu titik. Tatapan matanya terpaku ke beranda rumah. Di sana ia melihat seorang anak kecil sedang sedang duduk, tersenyum melambaikan tanggannya ke arahnya. Wanita itu coba mengenali anak perempuan itu. Ia membalas lambaian tangan tapi ia belum bisa mengenal anak itu. Aneh, anak kecil itu mengenalinya dengan baik dari bahasa tubuhnya. Kemudian seorang wanita dewasa keluar dari pintu rumah dan mendekati anak itu. Sepertinya ia adalah ibunya.

Si ibu juga memandangi si wanita yang berdiri di pekarangan rumahnya. la tersenyum ramah dan mengajaknya untuk mampir. Si wanita memenuhi ajakan dan meelangkahkan kaki. Baru satu langkahnya terayun, pemandangan itu sima secara tiba-tiba. Si wanita kebingungan dengan peristiwa itu. la memutuskan untuk segera pergi dan berkonsultasi dengan seseorang. Yang ia ingat, ia sempat melihat si perempuan kecil dan ibunya dalam pakaian tradisional perancis, dari abad ke-8. 

Penjelasan dari fenomena si wanita itu kemudian dikenal sebagai Deja vu, sekaligus lorong waktu. la telah memencet tombol masa lalu. Bagaimana tombol itu bisa terpencet? la ternyata telah menginjak sesuatu di halaman rumah tua itu. Sebuah batu yang dengan sebuah injakan tertentu telah menghadirkan masa lalu. 

Recognition Memory 
Recognition Memory adalah sebuah Memori dalam otak kita yang menyebabkan kita menyadari bahwa apa yang kita lakukan sekarang, pernah kita lakukan di waktu lampau. Recognition Memory teridiri dari 2 Yaitu Recollection dan Familiarity. 

Recollection 
Recollection (Mengumpulkan Kembali) adalah fenomena yang biasa terjadi di kehidupan kita. Yaitu dimana kita bertemu dengan orang dan kita mnerasa pernah menemuinya di suatu tempat yang pasti. Contohnya : Anda bertemu orang asing di Angkot dalam perjalanan menuju sekolah. Saat sampai di Sekolah dan Masuk kelas. Lalu disana Ada Guru baru yang sedang memperkenalkan dirinya, tiba-tiba anda mengingat bahwa anda pernah menemui Guru tersebut sebelumnya dan ternyata dia adalah orang di Angkot tadi. 

Familiarity 
Familiarity adalah fenomena dimana kita merasa pernah melakukan sesuatu yang sedang kita lakukan sekarang. Namun kita tak tau kapan kita melakukannya sebelumnya. Contohnya : Anda sedang belajar di kelas, Tiba-Tiba muncul Guru Baru yang belum pernah anda kenal. Namun, anda merasa pernah bertemu dengannya sebelumnya. Tapi anda tak tau kapan anda menemuinya. Deja vu juga terjadi dalam berbagai bentuk ada yang hanya bisa mengingat secara samara-samar, ada yang hanya mengingat lokasi kejadian, dan ada pula yang mengingat hal-hal yang sangat mendetail. Secara garis besar, deja vu terdiri dari empat jenis yakni: 

1. DEJA VU

Deja vu jenis ini yang paling banyak terjadi dimana kita pernah merasakan suatu kondisi yang sama sebelumnya dan yakin pernah terjadi di masa yang lampau dan berulang kali. Sering kali pada saat itu individu akan diikuti oleh perasaan takut, rasa familiar yang kuat, dan merasa aneh.

2. DEJA VECU

Perasaan yang terjadi pada Deja Vecu lebih kuat daripada deja vu. Deja vecu seseorang akan merasa pernah berada dalam suatu kondisi sebelumnya dengan ingatan yang lebih detail seperti ingat akan suara ataupun bau.

3. DEJA SENTI

deja Senti adalah fenomena "pernah merasakan" sesuatu. Suatu ketika kamu pernah merasakan sesuatu dan berkata "Oh iya saya ingat!" atau "Oh iya saya tahu!" namun satu dua menit kemudian sadar bahwa sebenarnya kamu tidak pernah berbicara apa pun.

4. JAMAIS VU

Jamais Vu (tidak pernah melihat/mengalami) adalah kebalikan dari deja vu. Kalau deja vu mengingat hal-hal yang sebenarnya belum pernah dilakukan sebelumnya, Jamais Vu lain lagi. Tipe deja vu semacam ini justru tiba-tiba kehilangan memorinya dalam mengingat sesuatu hal yang pernah terjadi dalam diri. Hal ini bisa terjadi karena kelelahan otak.

5. DEJA VISITE

Deja vu tipe ini lebih menitikberatkan pada ingatan seseorang akan sebuah tempat yang belum pernah ia datangai sebelumnya tapi merasa pernah merasa berada pada lokasi yang sama. Da Visite berkaitan dengan tempat atau geografi.

Sampai saat artikel ini ditulis, Deja vu belum terpecahkan misterinya. Begitu banyak artikel soal Deja vu yang membahas soal ini dengan berbagai teori tapi tetap saja belum tuntas dan terselesaikan. Jika suatu saat anda mengalami kejadian seperti contoh-contoh di atas, maka anda sedang mengalami Deja vu. Setiap orang, mungkin, pernah mengalaminya cepat atau lambat. Atau jangan-jangan, ketika anda membaca artikel ini, anda merasakan seperti sudah pernah membacanya.







 


HABIB

Kekasih atau sebutan untuk keturunan Rasulullah SAW.

ORNITHOMANCY

Metode ramalan yang menafsirkan gerak terbang dan tingkah laku burung.




RAMALAN


Grup Telegram Dunia Gaib

belajar metafisika