Sabtu Pon, 7 November 2026

Weton adalah hari kelahiran seseorang yang dihitung berdasarkan perpaduan dua siklus penanggalan, yaitu siklus mingguan masehi yang terdiri dari tujuh hari (Saptawara) dan siklus pasaran Jawa yang terdiri dari lima hari (Pancawara). Menghitung weton dilakukan dengan menjumlahkan nilai angka (neptu) dari hari masehi dan hari pasaran saat seseorang dilahirkan ke dunia.
Sistem penanggalan Jawa menempatkan weton sebagai cetak biru karakter, garis rezeki, serta kecocokan jodoh seseorang. Bagi masyarakat di wilayah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jawa Timur, tanggal kelahiran masehi kerap dipandang sekadar angka administratif. Penentu ritme spiritual dan waktu pelaksanaan upacara adat justru bersandar pada perputaran hari pasaran yang menyertai tanggal kelahiran tersebut.
Peninggalan naskah kuno seperti Serat Centhini dan Kitab Primbon Betaljemur Adammakna mencatat bahwa perpaduan hari dan pasaran melahirkan getaran kosmis unik. Setiap weton membawa kelebihan kepribadian sekaligus kelemahan watak yang perlu diseimbangkan melalui kebiasaan laku prihatin, tirakat, atau tradisi selamatan wetonan secara berkala.
Kata weton berakar dari kosakata bahasa Jawa wetu yang memiliki makna keluar atau melahirkan. Secara harfiah, istilah ini merujuk pada momen saat manusia pertama kali menghirup udara bumi dan keluar dari rahim ibunya. Penanggalan Jawa sendiri merupakan hasil sintesis agung antara kalender Saka Hindu berbasis peredaran matahari dan kalender Hijriyah Islam berbasis peredaran bulan yang diresmikan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo pada 1555 Saka atau tahun 1633 Masehi.
Perpaduan dua sistem penanggalan tersebut menciptakan dua roda perputaran waktu yang berjalan berdampingan, yakni Saptawara (tujuh hari dalam sepekan) dan Pancawara (lima hari pasaran). Kelipatan persekutuan terkecil dari angka tujuh dan lima menghasilkan angka 35. Artinya, siklus weton yang sama persis akan berulang setiap 35 hari sekali. Rentang waktu 35 hari inilah yang dalam peristilahan adat Jawa disebut sebagai satu selapan dina.
Batas pergantian hari dalam weton Jawa tidak berpatokan pada tengah malam pukul 00.00 WIB sebagaimana kalender internasional. Masyarakat Jawa menghitung permulaan hari baru sejak matahari terbenam (waktu surup atau waktu magrib). Seseorang yang lahir pada pukul 19.00 malam hari Kamis secara administratif tercatat lahir pada hari Kamis, namun secara adat weton orang tersebut sudah masuk ke dalam weton hari Jumat.
Saptawara membagi pekan menjadi tujuh hari dengan masing-masing hari mengemban bobot nilai angka yang disebut neptu. Neptu hari masehi ini memiliki rentang nilai dari angka 3 hingga 9:
Pancawara adalah siklus lima hari pasar tradisional yang diwariskan oleh peradaban agraris Jawa kuno. Masing-masing pasaran terhubung dengan konsep kosmologi Sedulur Papat Limo Pancer dan empat penjuru mata angin:
Daftar bobot angka resmi menurut naskah primbon tradisional tersusun dalam tabel berikut:
| Hari Masehi (Saptawara) | Nilai Neptu | Hari Pasaran (Pancawara) | Nilai Neptu | Arah Kiblat Pasaran |
|---|---|---|---|---|
| Ahad / Minggu | 5 | Legi | 5 | Timur (Putih) |
| Senin | 4 | Pahing | 9 | Selatan (Merah) |
| Selasa | 3 | Pon | 7 | Barat (Kuning) |
| Rabu | 7 | Wage | 4 | Utara (Hitam) |
| Kamis | 8 | Kliwon | 8 | Pusat / Pancer |
| Jumat | 6 | - | - | - |
| Sabtu | 9 | - | - | - |
Menghitung weton kelahiran tidak memerlukan rumus matematika rumit. Seseorang hanya perlu melewati tiga langkah penentuan yang terstruktur:
Rentang nilai neptu weton pada manusia bergerak dari angka terendah 7 hingga angka tertinggi 18. Neptu paling kecil dimiliki oleh kelahiran Selasa Wage (3 + 4 = 7), sedangkan neptu paling besar dimiliki oleh kelahiran Sabtu Pahing (9 + 9 = 18).
Berikut adalah tabel acuan lengkap 35 kombinasi weton kelahiran yang berputar dalam kalender Jawa:
| Hari Masehi | Pasaran Legi (5) | Pasaran Pahing (9) | Pasaran Pon (7) | Pasaran Wage (4) | Pasaran Kliwon (8) |
|---|---|---|---|---|---|
| Minggu (5) | Minggu Legi = 10 | Minggu Pahing = 14 | Minggu Pon = 12 | Minggu Wage = 9 | Minggu Kliwon = 13 |
| Senin (4) | Senin Legi = 9 | Senin Pahing = 13 | Senin Pon = 11 | Senin Wage = 8 | Senin Kliwon = 12 |
| Selasa (3) | Selasa Legi = 8 | Selasa Pahing = 12 | Selasa Pon = 10 | Selasa Wage = 7 | Selasa Kliwon = 11 |
| Rabu (7) | Rabu Legi = 12 | Rabu Pahing = 16 | Rabu Pon = 14 | Rabu Wage = 11 | Rabu Kliwon = 15 |
| Kamis (8) | Kamis Legi = 13 | Kamis Pahing = 17 | Kamis Pon = 15 | Kamis Wage = 12 | Kamis Kliwon = 16 |
| Jumat (6) | Jumat Legi = 11 | Jumat Pahing = 15 | Jumat Pon = 13 | Jumat Wage = 10 | Jumat Kliwon = 14 |
| Sabtu (9) | Sabtu Legi = 14 | Sabtu Pahing = 18 | Sabtu Pon = 16 | Sabtu Wage = 13 | Sabtu Kliwon = 17 |
Mengetahui weton bukan sekadar aktivitas menghafal angka mistis masa lalu. Dalam tatanan sosial masyarakat Jawa, angka neptu weton berfungsi sebagai panduan operasional dalam mengambil berbagai keputusan hidup mendasar:
Pemahaman mengenai weton mengajarkan manusia untuk mengenali diri sendiri secara jujur, menghormati perputaran waktu semesta, serta bersikap mawas diri dalam setiap langkah hidup lahiriah maupun batiniah.
Nilai neptu terendah adalah 7, yang hanya dimiliki oleh weton Selasa Wage (gabungan hari Selasa bernilai 3 dan pasaran Wage bernilai 4). Nilai neptu tertinggi adalah 18, yang dimiliki oleh weton Sabtu Pahing (gabungan hari Sabtu bernilai 9 dan pasaran Pahing bernilai 9).
Kelahiran yang terjadi setelah waktu matahari terbenam (waktu magrib) sudah masuk ke dalam hitungan weton hari berikutnya menurut kaidah penanggalan Jawa. Pergantian hari tradisional Jawa berpatokan pada saat pergantian petang hari, bukan saat pergantian tengah malam pukul 00.00 WIB.
Weton adalah siklus harian gabungan 7 hari Saptawara dan 5 hari pasaran Pancawara yang berulang setiap 35 hari sekali. Wuku adalah siklus mingguan Jawa yang terdiri dari 30 nama wuku (seperti Sinta, Landep, Wukir, Kurantil) yang berputar dalam rentang waktu 210 hari.
Siklus weton berulang setiap 35 hari karena angka 35 merupakan hasil perkalian antara siklus 7 hari masehi dan siklus 5 hari pasaran Jawa. Setelah melewati 35 hari berturut-turut, kombinasi hari dan pasaran yang sama akan bertemu kembali pada titik awal.
Pelacakan weton masa lalu dapat dilakukan dengan mencocokkan peristiwa sejarah besar yang diingat keluarga, seperti masa gerhana matahari, letusan gunung berapi, atau panen raya tertentu. Para sesepuh desa atau ahli kalender Jawa kemudian membuka tabel penanggalan abadi kurup Asapon untuk merekonstruksi tanggal dan pasarannya.