Sabtu Pon, 7 November 2026


Apa Itu Weton dan Bagaimana Cara Menghitungnya?


Ilustrasi wuku Warigagung dan Sungsang dalam naskah Babad ing Sangkala bertarikh 1738. Koleksi British Library (CC0)

Weton adalah hari kelahiran seseorang yang dihitung berdasarkan perpaduan dua siklus penanggalan, yaitu siklus mingguan masehi yang terdiri dari tujuh hari (Saptawara) dan siklus pasaran Jawa yang terdiri dari lima hari (Pancawara). Menghitung weton dilakukan dengan menjumlahkan nilai angka (neptu) dari hari masehi dan hari pasaran saat seseorang dilahirkan ke dunia.

Sistem penanggalan Jawa menempatkan weton sebagai cetak biru karakter, garis rezeki, serta kecocokan jodoh seseorang. Bagi masyarakat di wilayah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jawa Timur, tanggal kelahiran masehi kerap dipandang sekadar angka administratif. Penentu ritme spiritual dan waktu pelaksanaan upacara adat justru bersandar pada perputaran hari pasaran yang menyertai tanggal kelahiran tersebut.

Peninggalan naskah kuno seperti Serat Centhini dan Kitab Primbon Betaljemur Adammakna mencatat bahwa perpaduan hari dan pasaran melahirkan getaran kosmis unik. Setiap weton membawa kelebihan kepribadian sekaligus kelemahan watak yang perlu diseimbangkan melalui kebiasaan laku prihatin, tirakat, atau tradisi selamatan wetonan secara berkala.

Pengertian weton dalam sistem penanggalan Jawa

Kata weton berakar dari kosakata bahasa Jawa wetu yang memiliki makna keluar atau melahirkan. Secara harfiah, istilah ini merujuk pada momen saat manusia pertama kali menghirup udara bumi dan keluar dari rahim ibunya. Penanggalan Jawa sendiri merupakan hasil sintesis agung antara kalender Saka Hindu berbasis peredaran matahari dan kalender Hijriyah Islam berbasis peredaran bulan yang diresmikan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo pada 1555 Saka atau tahun 1633 Masehi.

Perpaduan dua sistem penanggalan tersebut menciptakan dua roda perputaran waktu yang berjalan berdampingan, yakni Saptawara (tujuh hari dalam sepekan) dan Pancawara (lima hari pasaran). Kelipatan persekutuan terkecil dari angka tujuh dan lima menghasilkan angka 35. Artinya, siklus weton yang sama persis akan berulang setiap 35 hari sekali. Rentang waktu 35 hari inilah yang dalam peristilahan adat Jawa disebut sebagai satu selapan dina.

Batas pergantian hari dalam weton Jawa tidak berpatokan pada tengah malam pukul 00.00 WIB sebagaimana kalender internasional. Masyarakat Jawa menghitung permulaan hari baru sejak matahari terbenam (waktu surup atau waktu magrib). Seseorang yang lahir pada pukul 19.00 malam hari Kamis secara administratif tercatat lahir pada hari Kamis, namun secara adat weton orang tersebut sudah masuk ke dalam weton hari Jumat.

Nilai neptu hari masehi (Saptawara)

Saptawara membagi pekan menjadi tujuh hari dengan masing-masing hari mengemban bobot nilai angka yang disebut neptu. Neptu hari masehi ini memiliki rentang nilai dari angka 3 hingga 9:

  • Ahad (Minggu): Memiliki nilai neptu 5. Hari Ahad dilambangkan dengan watak matahari yang berwibawa, terang, serta memiliki tekad kuat dalam memimpin.
  • Senin: Memiliki nilai neptu 4. Hari Senin disimbolkan dengan sifat rembulan yang luwes, penyayang, senang memperhatikan orang lain, namun terkadang mudah terombang-ambing perasaan.
  • Selasa: Memiliki nilai neptu 3. Hari Selasa merupakan hari dengan neptu terendah dalam Saptawara, berkarakter api yang pemberani, gesit bergerak, tetapi rawan tergesa-gesa saat mengambil keputusan.
  • Rabu: Memiliki nilai neptu 7. Hari Rabu dihubungkan dengan elemen dedaunan yang meneduhkan, pandai bergaul, luwes berbicara, serta memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan.
  • Kamis: Memiliki nilai neptu 8. Hari Kamis berwatak angin dan petir yang keras, pantang menyerah, menjunjung tinggi harga diri, serta gemar menegakkan aturan.
  • Jumat: Memiliki nilai neptu 6. Hari Jumat berkarakter bintang yang gemar berderma, senang keindahan lahir batin, memiliki karisma alami, namun terkadang tertutup dalam mengungkapkan masalah pribadi.
  • Sabtu: Memiliki nilai neptu 9. Hari Sabtu merupakan hari dengan bobot neptu tertinggi dalam Saptawara, berwatak bumi yang kukuh, teguh pendirian, sanggup menampung banyak beban penderitaan, namun sulit melupakan rasa kecewa.

Nilai neptu pasaran Jawa (Pancawara)

Pancawara adalah siklus lima hari pasar tradisional yang diwariskan oleh peradaban agraris Jawa kuno. Masing-masing pasaran terhubung dengan konsep kosmologi Sedulur Papat Limo Pancer dan empat penjuru mata angin:

  • Legi: Memiliki nilai neptu 5. Pasaran Legi berkedudukan di arah timur, berunsur udara, bertanda warna putih, dan mencerminkan watak manis tutur kata, optimistis, serta pandai bernegosiasi.
  • Pahing: Memiliki nilai neptu 9. Pasaran Pahing berkedudukan di arah selatan, berunsur api, bertanda warna merah, serta melambangkan keberanian, ketegasan sikap, dan energi kerja yang membara.
  • Pon: Memiliki nilai neptu 7. Pasaran Pon berkedudukan di arah barat, berunsur logam atau angin, bertanda warna kuning, serta berwatak bijaksana, gemar meneliti, dan hemat mengelola sumber daya.
  • Wage: Memiliki nilai neptu 4. Pasaran Wage berkedudukan di arah utara, berunsur air atau tanah, bertanda warna hitam, serta membawa sifat tabah, pandai menyimpan rahasia, dan tekun bekerja dalam keheningan.
  • Kliwon: Memiliki nilai neptu 8. Pasaran Kliwon menempati posisi pusat (pancer), berunsur ruang kesadaran batiniah, bertanda panca warna, serta melambangkan daya spiritual, kepekaan rasa, dan kemampuan mengayomi sesama.

Tabel nilai neptu saptawara dan pancawara

Daftar bobot angka resmi menurut naskah primbon tradisional tersusun dalam tabel berikut:

Hari Masehi (Saptawara) Nilai Neptu Hari Pasaran (Pancawara) Nilai Neptu Arah Kiblat Pasaran
Ahad / Minggu 5 Legi 5 Timur (Putih)
Senin 4 Pahing 9 Selatan (Merah)
Selasa 3 Pon 7 Barat (Kuning)
Rabu 7 Wage 4 Utara (Hitam)
Kamis 8 Kliwon 8 Pusat / Pancer
Jumat 6 - - -
Sabtu 9 - - -

Langkah menghitung neptu weton kelahiran secara berurutan

Menghitung weton kelahiran tidak memerlukan rumus matematika rumit. Seseorang hanya perlu melewati tiga langkah penentuan yang terstruktur:

  1. Ketahui hari masehi dan waktu jam lahir: Pastikan tanggal lahir tidak melewati batas waktu magrib. Kelahiran pukul 21.00 malam hari Rabu masuk ke dalam hari Kamis Jawa.
  2. Cari padanan hari pasaran Jawa: Gunakan kalender Jawa abadi atau tabel konversi penanggalan untuk menemukan pasaran pada tanggal tersebut. Misalnya, tanggal kelahiran bertepatan dengan pasaran Pon.
  3. Jumlahkan nilai neptu kedua komponen: Gunakan rumus `Neptu Weton = Neptu Hari + Neptu Pasaran`. Sebagai contoh, hari Kamis bernilai 8 dan pasaran Pon bernilai 7. Hasil penjumlahannya adalah 8 + 7 = 15. Weton orang tersebut adalah Kamis Pon dengan total neptu 15.

Rentang nilai neptu weton pada manusia bergerak dari angka terendah 7 hingga angka tertinggi 18. Neptu paling kecil dimiliki oleh kelahiran Selasa Wage (3 + 4 = 7), sedangkan neptu paling besar dimiliki oleh kelahiran Sabtu Pahing (9 + 9 = 18).

Tabel lengkap 35 kombinasi weton dan total neptu

Berikut adalah tabel acuan lengkap 35 kombinasi weton kelahiran yang berputar dalam kalender Jawa:

Hari Masehi Pasaran Legi (5) Pasaran Pahing (9) Pasaran Pon (7) Pasaran Wage (4) Pasaran Kliwon (8)
Minggu (5) Minggu Legi = 10 Minggu Pahing = 14 Minggu Pon = 12 Minggu Wage = 9 Minggu Kliwon = 13
Senin (4) Senin Legi = 9 Senin Pahing = 13 Senin Pon = 11 Senin Wage = 8 Senin Kliwon = 12
Selasa (3) Selasa Legi = 8 Selasa Pahing = 12 Selasa Pon = 10 Selasa Wage = 7 Selasa Kliwon = 11
Rabu (7) Rabu Legi = 12 Rabu Pahing = 16 Rabu Pon = 14 Rabu Wage = 11 Rabu Kliwon = 15
Kamis (8) Kamis Legi = 13 Kamis Pahing = 17 Kamis Pon = 15 Kamis Wage = 12 Kamis Kliwon = 16
Jumat (6) Jumat Legi = 11 Jumat Pahing = 15 Jumat Pon = 13 Jumat Wage = 10 Jumat Kliwon = 14
Sabtu (9) Sabtu Legi = 14 Sabtu Pahing = 18 Sabtu Pon = 16 Sabtu Wage = 13 Sabtu Kliwon = 17

Fungsi praktis weton dalam tradisi dan kehidupan masyarakat

Mengetahui weton bukan sekadar aktivitas menghafal angka mistis masa lalu. Dalam tatanan sosial masyarakat Jawa, angka neptu weton berfungsi sebagai panduan operasional dalam mengambil berbagai keputusan hidup mendasar:

  1. Membaca watak dan bakat bawaan (*watek*): Naskah primbon memetakan kecenderungan profesi berdasarkan watak weton. Seseorang dengan weton berunsur bumi dan berneptu besar dinilai cocok mengelola perkebunan, peternakan, atau bisnis aset properti, sementara weton berunsur angin lebih cocok berkarier di bidang diplomasi dan perdagangan.
  2. Menghitung kecocokan pasangan (*salaki rabi*): Angka neptu calon pengantin pria dan wanita dipadukan untuk melihat tingkat keselarasan rumah tangga, memitigasi potensi cekcok, serta mencari jalan keluar adat bila hitungan neptu berbenturan.
  3. Memilih hari baik hajatan (*saat ayu*): Upacara pernikahan, peresmian tempat usaha, hingga peletakan batu pertama rumah baru selalu diselaraskan dengan hari baik yang bersahabat dengan weton tuan rumah agar terhindar dari mara bahaya.
  4. Pelaksanaan tradisi wetonan: Setiap 35 hari sekali saat hari weton berulang, orang tua Jawa biasanya menggelar selamatan sederhana dengan menyajikan nasi tumpeng, sayur gudangan tujuh macam, dan telur rebus sebagai doa keselamatan diri serta pembersihan batin.

Pemahaman mengenai weton mengajarkan manusia untuk mengenali diri sendiri secara jujur, menghormati perputaran waktu semesta, serta bersikap mawas diri dalam setiap langkah hidup lahiriah maupun batiniah.

Pertanyaan yang sering diajukan

Berapa nilai neptu weton paling tinggi dan paling rendah dalam penanggalan Jawa?

Nilai neptu terendah adalah 7, yang hanya dimiliki oleh weton Selasa Wage (gabungan hari Selasa bernilai 3 dan pasaran Wage bernilai 4). Nilai neptu tertinggi adalah 18, yang dimiliki oleh weton Sabtu Pahing (gabungan hari Sabtu bernilai 9 dan pasaran Pahing bernilai 9).

Apakah anak yang lahir selepas magrib mengikuti weton hari berikutnya?

Kelahiran yang terjadi setelah waktu matahari terbenam (waktu magrib) sudah masuk ke dalam hitungan weton hari berikutnya menurut kaidah penanggalan Jawa. Pergantian hari tradisional Jawa berpatokan pada saat pergantian petang hari, bukan saat pergantian tengah malam pukul 00.00 WIB.

Apa perbedaan mendasar antara weton dan wuku?

Weton adalah siklus harian gabungan 7 hari Saptawara dan 5 hari pasaran Pancawara yang berulang setiap 35 hari sekali. Wuku adalah siklus mingguan Jawa yang terdiri dari 30 nama wuku (seperti Sinta, Landep, Wukir, Kurantil) yang berputar dalam rentang waktu 210 hari.

Mengapa siklus weton Jawa berulang tepat setiap 35 hari sekali?

Siklus weton berulang setiap 35 hari karena angka 35 merupakan hasil perkalian antara siklus 7 hari masehi dan siklus 5 hari pasaran Jawa. Setelah melewati 35 hari berturut-turut, kombinasi hari dan pasaran yang sama akan bertemu kembali pada titik awal.

Bagaimana cara melacak weton kelahiran jika tanggal masehi pada masa lalu tidak tercatat?

Pelacakan weton masa lalu dapat dilakukan dengan mencocokkan peristiwa sejarah besar yang diingat keluarga, seperti masa gerhana matahari, letusan gunung berapi, atau panen raya tertentu. Para sesepuh desa atau ahli kalender Jawa kemudian membuka tabel penanggalan abadi kurup Asapon untuk merekonstruksi tanggal dan pasarannya.







SANTET

Santet adalah upaya seseorang untuk mencelakai orang lain dari jarak jauh dengan menggunakan ilmu hitam. Santet dilakukan menggunakan berbagai macam media antara lain rambut, foto, boneka, dupa, rupa-rupa kembang, dan lain-lain. Seseorang yang terkena santet akan berakibat cacat atau meninggal dunia.

TAPA NGALONG

Tapa ini juga begitu unik. Tapa ini dilakuakn dengan posisi tubuh kepala dibawah dan kaki diatas (sungsang). Pada tahap tertentu tapa ini dilakukan dengan kaki yang menggantung di dahan pohon dan posisi kepala di bawah (seperti kalong/kelelawar). Pada saat menggantung dilarang banyak bergerak. Secara fisik bagi yang melakoni tapa ini melatih keteraturan nafas. Biasanya puasa ini dibarengi dengan puasa Ngrowot.




pelatihan seni penyembuhan
RAMALAN



aplikasi android