Sabtu Kliwon, 10 Desember 2022


Mengenal Hari Pasaran Jawa


pasaran jawa

Apa itu hari pasaran jawa? dalam sejarahnya, orang Jawa seperti juga masyarakat nusantara lainnya, sangat jeli memperhatikan dan mengamati tanda-tanda alam. Kehidupan mereka yang sangat ber gantung kepada alam mendorong mereka untuk semakin mengenali alam, kemudian membuat pembakuan-pembakuan atas gejala alam yang terjadi berulang-ulang. Salah satu dari pembakuan gejala alam yang tercatat dalam Primbon Jawa adalah sistem penanggalan. Berbeda dengan sistem penanggalan Masehi yang kita kenal secara nasional, penanggalan Jawa sangat sarat dengan makna-makna perlambang alam yang direkam selama ribuan tahun. Makna-makna itu berkaitan dengan watak dari waktu yang berjalan, sifat manusia, pekerjaan yang cocok, dan masih banyak lagi.

HARI


Baca juga :

Menurut catatan Primbon, hari-hari yang kita lalui itu memiliki watak dan pengaruh tersendiri. Hari yang dalam bahasa Jawa disebut dina, mengandung watak seperti di bawah ini:

  1. Hari Minggu berwatak matahari, baik, manis, dan menyenangkan, tapi mudah hanyut.
  2. Hari Senin benrvatak bulan, megah, senang dengan hal yang mewah-mewah.
  3. Hari Selasa berwatak api, curiga, tak mudah percaya, dan sering buruk sangka.
  4. Hari Rabu berwatak bumi, menepati kesanggupan, pantas dalam segala hal, tapi sembrono.
  5. Hari Kamis berwatak angin dan petir, peka terhadap rahasia alam tapi suka pamer, manja dan tak mau kalah.
  6. Hari Jumat berwatak bintang, senang dengan hal yang suci, mengharuskan kemurnian.
  7. Hari Sabtu berwatak air, serakah akan segala hal, dan ingin menonjol.

PASARAN

Pasti kamu bingung dengan istilah "pasaran", kan?! Tapi pasti kamu sering mendengar istilah “Jumat Kliwon". Nah, selain hari yang berjumlah tujuh, orang Jawa juga memakai sistem pasaran yang berjumlah lima. Watak pasaran tersebut masing-masing adalah :

  1. Kliwon atau kasih, berwatak pandai bicara dan ahli sastra bahasa, bersikap sabar dan dapat membedakan yang baik dan buruk.
  2. Legi atau umanis, berwatak menguasai kekayaan dunia, menginginkan kedamaian, dan sangat rajin beribadah.
  3. Pahing atau jenar, berwatak ingin memiliki segala hal, suka memberi tetapi dengan pamrih keuntungan pribadi.
  4. Pon atau palguna, berwatak senang memamerkan hartanya, angkuh, dan tak tahu malu.
  5. Wage atau cemengan, berwatak keras dalam berbicara, serta kaku hatinya.

Disebut pasaran, karena sistem ini lazim dipakai untuk membagi hari buka pasar. Pembagian pasar yang di buka bergantian di lima tempat dalam suatu wilayah, bertujuan untuk mmeeratakan perokomian rakyat dalam masyarakat Jawa asli serta sebagai harmonisasi antara formasi makro kosmos (dunia besar/alam raya) dan mikro kosmos (dunia kecil/manusia).

Hari pasaran jawa memiliki rumusan tertentu atau bilangan yang melekat pada hari dan pasarannya masing-masing yang disebut NEPTU (Angka).

NEPTU HARI :

- Hari Minggu memiliki neptu 5.
- Hari Senin memiliki neptu 4.
- Hari Selasa memiliki neptu 3.
- Hari Rabu memiliki neptu 7.
- Hari Kamis memiliki neptu 8.
- Hari Jumat memiliki neptu 6.
- Hari Sabtu memiliki neptu 9.

NEPTU PASARAN :

* Kliwon memiliki neptu 8.
* Legi memiliki neptu 5.
* Pahing memiliki neptu 9.
* Pon memiliki neptu 7.
* Wage memiliki neptu 4.

Hari pasaran jawa inilah yang kemudian menjadi dasar bagi perhitungan berdasarkan neptu diatas seperti untuk mengetahui watak seseorang melalui weton lahir, mengetahui kecocokan dalam suatu perjodohan atau ramalan jodoh, menentukan tanggal pernikahan, hari baik hari buruk dan lain sebagainya. Di website ramalanartinama.com ada berbagai aplikasi yang menggunakan metode pasaran jawa, silahkan diakses dan semoga bermanfaat.







 


HIZIB KAMA-IN

Hizib ini merupakan salah satu jabar sir dari pola KAF HA YA AIN SHOD HA MIM AIN SIN QOF, mengandung energy ruhaniyyah yang luar biasa, berfungsi sebagai sarana Mahabbah, Miftah Al-Adyan, Mendatangkan seseroang dari kejauhan, pembuka rizki, penolak bala dan wasilah menundukkan seseorang.

FIRASAT

Gejala atau tanda-tanda suatu peristiwa akan terjadi. Indera untuk menerima atau merasakan adanya firasat, disebut indera batin atau indera ke 6. Firasat datang dapat melalui getaran hati tanpa sebab-sebab yang melatarbelakanginya, namun dapat juga datang setelah melihat suatu kejadian alam yang disebut titen yaitu kebiasaan suatu kejadian berdasarkan tanda-tanda alam.




Grup Telegram Dunia Gaib

belajar metafisika