Senin Kliwon, 9 Maret 2026


Memahami Tauhid Secara Syariat-Tarekat-Hakekat dan Makrifat


Makna tauhid dalam Islam berasal dari kata Arab "wahhada – yuwahhidu – tauhīdan"  yang berarti menjadikan ketunggalan atau meng-Esakan atau meniadakan apapun selain Allah. Dalam konteks keimanan Islam, tauhid berarti mengesakan Allah dalam segala hal yaitu Dzat, Sifat, Asma (nama) maupun Af’al (perbuatan)-Nya.

Tauhid merupakan inti ajaran Islam dan fondasi utama dari seluruh amal ibadah. Segala bentuk ajaran dalam Islam berporos pada pengesaan Allah. Tanpa tauhid, semua amal kehilangan nilai spiritualnya karena ibadahnya hanya fisik belaka.

*1. Tauhid pada Tingkat SYARIAT*

Kalimat Tauhid pada tingkat syariat adalah "La ilaha illallah (tidak ada tuhan selain Allah)". Kalimat ini ada di dalam Al Quran Muhammad (47):19 : “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan selain Allah".

Seseorang pada tingkatan ini disebut telah BERISLAM. Pada tingkat syariat, tauhid adalah pengakuan pada tingkat sesembahan bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Jadi memahami tauhid dalam tingkat syariat hanyalah pada sesembahan saja. Isu yang seringkali muncul yang menjadi perdebatan adalah soal tabaruk pada benda mati, karomah wali, tawasul, ziarah kubur dan sejenisnya yang dianggap oleh beberapa aliran dalam Islam menganggu akidah karena dikuatirkan menyembah kepada selain Allah.

Tauhid pada tingkat syariat adalah pintu pertama dalam keimanan. Orang yang berada pada level ini masih memisahkan antara dirinya dan Tuhan. Allah adalah Pencipta (Khaliq), manusia adalah ciptaan (makhluk).

Pada tingkatan ini, Allah seringkali ditafsirkan berada di tempat yang jauh seperti langit ke tujuh dan bersemayam di atas arsy layaknya raja yang duduk diatas singgasana. Pada tingkatan syariat seperti ini, orang belum mengenal Allah karena yang baru dikenal hanyalah namanya saja. Konsep tentang Tuhan masih bersifat abstrak sehingga manusia sulit untuk merasa dekat kepada Allah. 

Begitu juga dalam hal ibadah, pada tingkatan syariat fokusnya adalah pada ibadah-ibadah fisik saja. Kebanyakan Ibadahnya hanya gugur kewajiban sehingga tidak berbekas pada perilaku/akhlak. Hal ini karena ibadahnya tidak menyertakan ruhani.


Baca juga :

Menurut Jalaluddin Rumi, tauhid pada tingkatan ini baru mengenal “nama” Tuhan, belum menyelami “rasa”-Nya. Rumi berkata: "Engkau telah menyebut nama Allah dengan lidahmu, tapi belum tenggelam dalam laut-Nya".


*2. Tauhid pada Tingkat TAREKAT*

Kalimat Tauhid pada tingkat tarekat adalah  "lā ilaha illa Huwa (tidak ada tuhan selain Dia)". Kalimat ini adalah di dalam Al Quran Surah Al-Baqarah (2) ayat 255 : "Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)."

Seseorang pada tingkatan ini disebut telah BERIMAN. Tarekat memiliki makna perjalanan menuju Allah. Kalimat "illa Huwa" (selain Dia) menandakan adanya kedekatan batin. Manusia yang tadinya berjarak dari Allah kini MULAI merasakan kedekatan Allah dalam setiap gerak kehidupan. Tauhid pada tahap ini bukan hanya mengetahui, tapi merasakan. Segala amal, dzikir, dan ibadah menjadi sarana untuk menyaksikan "Dia" (Huwa) di balik setiap kejadian.

Manusia yang menempuh tarekat mulai melihat bahwa segala sesuatu berfungsi karena Allah yang menghidupkannya. "Tidak ada yang bergerak di alam semesta kecuali dengan Huwa (DIA)". 

Pada tahapan tarekat, seseorang melakukan proses "takhalli". Kata takhalli berasal dari akar kata khalaa yang berarti “kosong”.
Secara istilah, takhalli berarti mengosongkan diri dari segala sifat tercela (akhlak madzmumah) yang menutupi hati dari cahaya Allah. Ini adalah langkah pertama dalam perjalanan spiritual: membersihkan wadah hati agar layak diisi oleh nur Ilahi.

Contoh sifat yang harus dibersihkan :

  • Riya (pamer amal)
  • Hasad (iri hati)
  • Takabbur (sombong)
  • Ujub (bangga diri)
  • Cinta dunia berlebihan
  • Marah, dengki, dendam


*3. Tauhid pada Tingkat HAKEKAT*

Kalimat Tauhid pada tingkat HAKEKAT adalah  "la ilaha illa Anta (Tidak ada tuhan selain Engkau)". Kalimat ini adalah di dalam Al Quran Surah Al-Anbiya’ (21) ayat 87 : "Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka ia berdoa dalam kegelapan, Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”

Pada tahapan hakekat, seseorang makin merasakan kedekatan yang intim dengan Allah. Pada tahapan ini seseorang melakukan proses "tahalli". Kata tahalli berasal dari halla yang berarti "menghiasi". 

Jadi setelah hati dikosongkan dari sifat buruk melalui takhalli, tahap selanjutnya adalah menghiasi diri dengan akhlak terpuji (akhlak mahmudah) yang mencerminkan sifat-sifat Allah. Inilah tahap pembentukan karakter spiritual — meniru dan meneladani sifat-sifat Ilahi (Takhallaqu bi akhlaqillah).

Contoh sifat yang harus ditanamkan :

  • Dermawan
  • Ikhlas
  • Sabar
  • Syukur
  • Tawakal
  • Kasih sayang
  • Rendah hati

Seseorang pada tingkatan ini disebut juga telah ber-IMAN IHSAN. Beribadah dengan kesadaran tertinggi, seolah-olah melihat Allah atau sadar bahwa Allah selalu melihat setiap perbuatannya. 

Kalimat "illa Anta" (selain Engkau) menunjukkan kesadaran pribadi hamba di hadapan Tuhan. Pada tingkat ini, hamba telah tenggelam dalam kesadaran bahwa hanya Engkau-lah yang ada, dan aku ini hanyalah bayangan atau cermin dari keberadaan-Mu. Ini adalah tahap awal penyerahan total (fana’). Hamba tidak lagi melihat dirinya sebagai pelaku, melainkan menyaksikan semua perbuatan berasal dari Allah. Terdapat pengakuan mutlak kelemahan diri di hadapan keagungan Allah. 

Pada tahap ini seorang arif merasa "aku tiada, yang ada hanyalah Engkau". Ibadahnya ditujukan hanya untuk Allah, yang diharap hanyalah Allah (bukan pahala/surga). Dalam beribadah maupun bekerja, dirinya sudah merasa bukan yang melakukan perbuatan tapi  Allah semua yang berbuat.


*4. Tauhid pada Tingkat MAKRIFAT*

Kalimat Tauhid pada tingkat MAKRIFAT adalah  "la ilaha illa Ana (tidak ada tuhan selain Aku)". Kalimat ini adalah di dalam Al Quran Surah Ṭhaha (20) ayat 14 "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku."

Dari proses takhalli dan tahalli maka buahnya adalah "Tajalli". Kata tajalli berasal dari jala yang berarti “menampakkan diri” atau “tersingkapnya sesuatu”. Tajalli adalah tahap tertinggi dalam perjalanan spiritual — ketika cahaya Allah menampakkan diri di dalam hati seorang hamba setelah ia bersih (takhalli) dan berhias (tahalli).

Pada tahap ini, seorang arif menyaksikan kehadiran Allah dalam segala sesuatu, dan tidak lagi melihat selain Dia. Seseorang yang sudah makrifat (tajalli) terjadi "tubadil" yaitu perpindahan mindset/pandangan dari subjek menjadi objek, jika selama ini di syariat masih merasa menjadi makhluk maka di tingkat makrifat "rasa makhluk"nya telah hancur-lebur-sirna menjadi "Rasa Tuhan".

Tingkatan Tajalli (menurut para sufi) :

* Tajalli Af’al (penyingkapan perbuatan Allah) : hamba menyadari bahwa semua gerak dan kejadian di alam ini berasal dari Allah. "Tidak ada yang bergerak kecuali dengan izin-Nya".

* Tajalli Sifat (penyingkapan sifat-sifat Allah) : hamba merasakan sifat-sifat Allah — kasih sayang, keagungan, keadilan — bekerja melalui dirinya.

* Tajalli Dzat (penyingkapan esensi Allah) : puncak ma’rifat, di mana hamba tidak lagi melihat wujud apapun termasuk dirinya selain wujudNya. 

Pada puncak tauhid ini, Tuhan sendiri yang berbicara: illa Ana — "tidak ada tuhan selain Aku". Pada tahap ini, bukan lagi hamba yang mengenal Allah, tetapi Allah yang memperkenalkan diri-Nya kepada hamba. Allah membuka rahasia diriNya kepada hamba yang dikehendakinya. 

Kesadaran makrifat adalah penyingkapan langsung (kasyf) terhadap realitas Ilahi — Al-Haqq. Hamba telah sepenuhnya fana (lenyap ego dan dualitas), kemudian baqa’ (kesadaran Ilahinya sudah kekal atau tidak tergoyahkan). Jika hamba itu berkata "Aku adalah Allah", maka jangan salah paham karena yang berkata itu bukan lagi mahkluk tetapi Allah yang telah memegang kendali terhadap hamba tersebut. 

Pada tahapan puncak makrifat, Jalaludin Rumi menyebutnya sebagai penyatuan cinta : "Ketika aku mencari Allah, kutemukan diriku. Ketika aku mencari diriku, kutemukan Allah." Saat menyembah pun sudah tiada lagi yang menyembah dan disembah karena "al abid wal ma'bud wahid (yang menyembah dan yang disembah adalah satu).

Puncak makrifat bukanlah menyatunya Allah dan manusia karena hakekatnya sejak awal penciptaan antara Allah dan hambaNya tiada pernah berpisah. Allah itu Dzat dan hamba itu Sifat. Antara Dzat dan Sifat tiada bercerai. Meskipun nampaknya ada 2 entitas namun hakekatnya ESA/TUNGGAL. Ini seperti rasa manis dengan gula atau rasa asin dengan garam-nya yang semuanya tiada berpisah.

Tauhid bukan hanya diucapkan sebagai kalimat, tetapi tauhid adalah perjalanan kesadaran menuju Yang Esa — dari mengenal Allah melalui kata-kata, menuju mengenal-Nya melalui pengalaman langsung di hati. Pada akhirnya, semua tingkat itu berujung pada satu realitas yang terdapat pada surat Al-Baqarah Ayat 115 : "Hanya milik Allah timur dan barat. Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah".

Kesimpulan : pada tingkatan syariat, kesadaran yang hadir adalah "kesadaran sebagai makhluk", lalu berproses melalui tarekat-hakekat "kesadaran sebagai makhluk" perlahan berkurang sampai puncaknya makrifat terjadilah pergeseran kesadaran dimana "kesadaran sebagai makhluk" hilang lenyap total menjadi "kesadaran Allah". Ini bukan berarti makhluk menjadi Tuhan karena hakekatnya makhluk itu tidak ada (hanya bayangan) dan yang ada cuma Allah. Pada tahap "yang ada hanya Allah" itulah esensi tauhid murni yaitu meniadakan apapun selain Allah. Wallahu a'lam bishawab.






oke news_detail.php


GAHARU

Sejenis kayu yang berasal dari pohon tengkaras. Baunya harum dan askup kayu gaharu diyakini sebagai makanan mahluk halus sehingga sering digunakan sebagai sarana memanggilnya.

PHYSIOGNOMY

Metode ramalan yang menafsirkan dan menganalisis karakter melalui ciri-ciri fisik.




pelatihan seni penyembuhan
RAMALAN




aplikasi android