Senin Kliwon, 9 Maret 2026
Dari Anas bin Malik, ia berkata: "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, dan sesungguhnya ummatku akan terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang semuanya berada di Neraka, kecuali satu golongan, yakni “al-Jama’ah".
Perpecahan dalam agama-agama adalah fakta yang sudah terjadi dimana-dimana baik di dalam agama Islam maupun non islam. Di dalam Islam sendiri sebagaimana hadist diatas umat Islam terpecah menjadi banyak golongan dan mayoritas tidak selamat namun hanya satu golongan yang selamat. Hadist itu sendiri kemudian banyak dijadikan hujjah bagi tiap-tiap golongan untuk mengklaim bahwa satu golongan yang selamat itu adalah golongannya sendiri.
Sebagai muslim, kita tentunya hidup dalam golongan Islam tertentu karena sejak Rasulullah tiada maka mau tidak mau, umat Islam hidup dalam kelompok-kelompok atau golongan tertentu baik secara fiqih (mazhab) maupun secara akidah. Jika kita lahir di Iran, hampir pasti kita menjadi golongan syiah, jika lahir di Indonesia hampir pasti menjadi golongan sunni. Jika dinegara lain bisa jadi menjadi golongan ahmadiyah, wahabi dll.
Perpecahan atau perbedaan tentunya adalah hukum alam yang tanpa ada dalilnya pun pasti akan terjadi. Apalagi dalam hal penafsiran sumber hukum Islam, banyak masing-masing ulama memegang teguh penafsirannya sendiri dan sering kali diantara mereka saling berselisih hingga yang ekstrim saling mengkafirkan hingga menghalalkan darah meskipun sesama muslim.
Jika perpecahan dalam agama Islam ini sudah terjadi, lalu pertanyaan yang krusial adalah SIAPA GOLONGAN YANG SELAMAT? jawaban standar terhadap pertanyaan ini adalah golongan yang selamat yaitu yang mengikut Allah (Al Quran) dan Rosulnya (melalui sunnahnya). Tentu jawaban ini masih mengambang karena semua golongan yang berpecah belah pun menggunakan Al Quran dan sunnah.
Untuk menjawab golongan mana yang benar, maka kita bisa menafsirkan hadist dengan Al Quran yaitu mencari ayat Quran yang bercerita tentang perpecahan golongan seperti ayat berikut :
"Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka." [Ar-Rum/30:31-32]
Dari ayat diatas, ternyata orang-orang yang memecah belah agama dan bangga terhadap golongannya adalah orang yang dikategorikan sebagai pelaku kemusrikan yaitu mempersekutukan Allah. Orang awam mungkin akan bertanya, bukankah orang musrik itu yang menyembah patung, matahari dll selain Allah? lalu apa hubungannya dengan memecah belah agama?
Di dalam diri kita sesungguhnya ada yang mengendalikan hanya saja banyak manusia tidak menyadarinya. Allah itu adalah Tuhan yang seharusnya mendominasi diri kita. Inilah iman Ihsan yaitu merasa Allah dekat dengan kita. Jika Allah yang mendominasi diri kita, maka kita memiliki sifat-sifatNya (berakhlakul karimah).
Namun jika yang mendominasi diri kita ternyata bukan Allah melainkan HAWA NAFSU maka yang terjadi adalah kita memiliki sifat-sifat iblis sehingga yang mendominasi diri kita bukan Allah melainkan hawa nafsu. Hawa nafsu inilah yang dijadikan tuhan didalam diri. Kalau hawa nafsu dijadikan tuhan maka itulah yang namanya kemusrikan karena telah meniadakan Allah di dalam dirinya.
Jadi orang-orang yang memecah belah agama dengan cara merasa dirinya paling benar, merasa bangga dengan golongannya lalu mensesatkan golongan yang lain itu artinya orang-orang yang bertuhankan hawa nafsu dan mereka tidak menyadari telah melakukan kemusrikan. Inilah syirik khofi (samar) yang mayoritas umat Islam banyak yang tidak menyadarinya.
Dalam surat Al Baqarah ayat 217 dikatakan : "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar"
Jadi walaupun kita rajin sholat, puasa, baca Quran dan ibadah lainnya namun jika diri kita masih berbangga dengan golongannya, masih merasa paling benar, masih merasa yang paling masuk surga maka tanpa disadari diri kita masih melakukan kemusrikan karena menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhan.
Dari penjelasan diatas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa golongan yang selamat itu adalah GOLONGAN ORANG YANG TDDAK MELAKUKAN KEMUSRIKAN ALIAS GOLONGAN ORANG YANG BERTAUHID. Tidak peduli kita memakai mazhab apapun dari golongan manapun jika mampu bertauhid maka Insha Allah kita akan menjadi golongan yang selamat. Lalu apa makna “al-Jama’ah" pada hadist diatas? maknanya adalah "Sekelompok orang yang berkumpul dalam satu kesatuan" yaitu orang-orang yang bertauhid. Jika kita dari golongan Islam yang bernama "ahlusunnah wal jamaah" dan mampu bertauhid, Insha Allah selamat dan jika dari golongan Islam yang lain (apapun namanya) selama kita mampu bertauhid maka Insha Allah akan selamat juga.
Bagaimana cara bertauhid? silahkan baca artikel Mengapa Manusia Harus Bertauhid?
oke news_detail.php