Jumat Legi, 3 Juli 2026


Dataran Tinggi Dieng : Tempat Tirakat Memburu Pangkat


goa semar dieng

Di perbukitan yang memisahkan Telaga Warna dan Pengilon di kompleks wisata alam Dataran Tinggi Dieng terdapat goa-goa yang sering digunakan meditasi oleh para spiritualis. Goa-goa tersebut tidaklah besar, sehingga jika tanpa pemandu akan kesulitan menemukannya. “Bagi para spiritualis Goa Semar dipercaya paling kuat untuk laku spiritual,” jelas pemandu wisata Mushodiq kepada Koran Merapi belum lama.


Baca juga :

Goa tersebut memiliki kedalaman sekitar 4 meter. Ruang di dalamnya diperkirakan dapat menampung sepuluh orang untuk melakukan sesirih. Ruangan ini dipercaya pernah digunakan Ki Lurah Semar untuk bersamadi. Tidak perlu repot bertapa sambil duduk bersila. Tirakat yang dijalani di goa ini bisa dilakukan dengan tiduran. Bahkan yang tidak sanggup melek semalam suntuk diperbolehkan tidur, asal tetap memiliki tekat yang kuat. Persyaratan yang harus dilakukan sebelum melakukan tirakat adalah menghubungi juru kunci. Tanpa peran juru kunci bisa fatal, pasalnya ada beberapa hal yang harus dijelaskan sebelum tirakat. Baik menyangkut pantangan maupun apa yang harus dilakukan. Selain itu, pintu goa telah di tutup dengan pintu besi, hanya juru kuncilah yag bisa membuka, karena kunci dibawanya. “Banyak yang diminta pelaku tirakat.

Pada zaman SDSB atau Porkas, orang banyak meminta nomor buntut. Kini kebanyakan meminta naik pangkat atau menduduki posisi tertentu di kantor. Juga ada yang meminta untuk dekat jodoh atau dilancarkan rezekinya. Ada pula yang meminta karunia agar panjang umurnya dan sehat atau sembuh dari penyakit yang dideritanya,” katanya. Hari-hari yang dikeramatkan adalah malam Jumat Kliwon dan Selasa Wage. Dipercaya pada malam tersebut paling bagus dan tepat untuk laku tirakat. Konon permintaan akan terkabul dengan syarat lulus serangkaian ujian selama menjalani tirakat. Ujian yang dimaksud antara lain badai, godaan harta dan benda, serta wanita.







AEROMANCY

Ramalan dengan menggunakan udara dan langit sebagai mediumnya yakni dengan cara mengamati bentuk awan, komet dan fenomena langit lainnya.

KALENDER JAWA

Kalender Jawa adalah sebuah kalender yang istimewa karena merupakan perpaduan antara budaya Islam, budaya Hindu-Buddha Jawa dan bahkan juga sedikit budaya Barat. Dalam sistem kalender Jawa, siklus hari yang dipakai ada dua: siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang, dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran. Pada tahun 1625 Masehi, Sultan Agung yang berusaha keras menyebarkan agama Islam di pulau Jawa dalam kerangka negara Mataram mengeluarkan dekrit untuk mengubah penanggalan Saka. Sejak saat itu kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender kamariah atau lunar, namun tidak menggunakan angka dari tahun Hijriyah (saat itu tahun 1035 H). Angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan. Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan. Sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1547 Saka, diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.




pelatihan seni penyembuhan
RAMALAN




aplikasi android