Senin Kliwon, 9 Maret 2026


Hakekat Syafaat : Siapa Sesungguhnya yang Memberikan Pertolongan?


Secara bahasa, syafaat (الشفاعة) berasal dari kata "syaf‘" yang berarti “menyertakan” atau “menjadi pasangan”. Dalam konteks agama, syafaat berarti permohonan ampun atau pertolongan yang diberikan seseorang kepada orang lain di hadapan Allah agar diberi keringanan, ampunan, atau derajat yang lebih tinggi. Di dalam Islam, Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang diyakini dapat memberikan pertolongan kepada umat Islam di akherat agar selamat dari neraka sehingga bisa masuk surga.

Di dalam Al Quran, perihal syafaat tercantum di dalam beberapa ayat diantaranya :

  • "Katakanlah: Hanya milik Allah segala syafaat itu semuanya." (QS. Az-Zumar: 44)
  • "Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya" (QS. Al-Baqarah: 255)
  • "Dan berapa banyak malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna, kecuali setelah Allah mengizinkan bagi siapa yang dikehendaki dan diridhai-Nya." (QS. An-Najm: 26)
  • "Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali (syafaat) orang yang telah diberi izin oleh Tuhan Yang Maha Pengasih, dan yang diridhai perkataannya." (QS. Thaha: 109)

Baca juga :

Dari penjelasan ayat Quran diatas, nyatalah bahwa yang dapat memberikan syafaat hanyalah Allah. Lalu kenapa Nabi Muhammad juga dapat memberikan syafaat? Mengapa ada 2 pihak (Allah dan Nabi) yang dapat memberikan syafaat? bukankah bertauhid dalam syafaat itu adalah "tiada yang dapat memberikan syafaat kecuali Allah"? jika ada pihak selain Allah yang dapat memberikan syafaat bukankah ini jadi seperti menduakan Allah?

Sebelum menjawab pertanyaan diatas, kita perlu mengetahui juga dalil tentang Nabi Muhammad SAW yang dapat memberikan syafaat di akherat. Dalilnya tidak bersumber pada Al Quran melainkan bersumber pada hadist, diantaranya adalah :

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah bersabda: "Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari kiamat, yang pertama kali dibangkitkan dari kubur, dan yang pertama kali memberi syafaat serta yang pertama kali diterima syafaatnya." (HR. Muslim, no. 2278)

Dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a., Rasulullah bersabda: "Aku diberi pilihan antara separuh umatku masuk surga atau diberi syafaat. Aku memilih syafaat, dan syafaatku adalah untuk umatku yang mati dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun." (HR. Tirmidzi, no. 2435; Ahmad, no. 11122)

Syafaat dari Sudut Pandang Syariat

Dari sudut pandang syariat, syafaat itu diberikan oleh Nabi Muhammad atas ijin Allah. Jadi Allah memberikan hak syafaat kepada seseorang yang dikehendakiNya. Dalam hal ini Nabi Muhammad diberikan hak syafaat agar dapat memberikan syafaat kepada umatnya. Jadi selain Allah, ada pihak lain yang diberikan hak untuk memberikan syafaat.

Lalu bagaimana dengan umat agama lain adakah semacam syafaat juga? Pada agama kristen, di Al Kitab (Yohanes 14:6) Yesus berkata : "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.". Kalau dalam agama kristen istilahnya bukan syafaat tapi "juru selamat" dan Yesus dipercaya oleh pengikutnya sebagai juru selamat saat nanti diakherat. Persamaan syafaat dan juru selamat adalah adanya pihak lain yang ditunjuk oleh Tuhan untuk memberikan pertolongan kepada umatnya di akherat. Jadi soal syafaat dari sudut pandang syariat masih ada 2 pihak yang terlihat yaitu Allah dan Rasul.

Syafaat dari Sudut Pandang Hakekat-Makrifat

Dari sudut pandang hakekat-makrifat, syafaat mutlak harus dipandang dengan tauhid murni yaitu hanya Allah yang 100% memberikan syafaat tersebut karena sangat jelas di Al Quran pun dikatakan hanya Allah yang dapat memberikan syafaat. Lalu apa peran Nabi? jika kita mempelajari ilmu tasawuf maka posisi Nabi sudah FANA yaitu sudah meniadakan dirinya. Dirinya sudah lebur sehingga yang nyata dan wujud pada dirinya hanyalah Allah. Jadi jika Nabi mengatakan dirinya bisa memberikan syafaat maka yang berkalam tersebut bukanlah Nabi melainkan Allah. 

Orang syariat memang melihat Nabi yang berkalam, namun orang makrifat melihatnya Allah lah yang berkalam dengan menggunakan Nabi sebagai penyampai kalamNya. Jadi saat Nabi berkalam dia bisa memberikan syafaat maka kesadaran Nabi sebagai manusia sudah tiada dan yang muncul adalah kesadaran Tuhan. Untuk memahami hal ini memang tidak mudah karena kita harus mengetahui asal muasal atau sejarah hubungan antara manusia dan Tuhan yaitu dengan cara memahami rahasia diri karena barang siapa mengenal diri maka akan mengenal Tuhan. Bisa dibaca pada artikel tentang "Mengenal Rahasia Diri agar Mampu Mengenal Allah".






oke news_detail.php


NGELOWONG

Adalah salah satu jenis puasa dimana Seseorang yang melakoni puasa Ngelowong dilarang makan dan minum dalam kurun waktu tertentu. Hanya diperbolehkan tidur 3 jam saja (dalam 24 jam). Diperbolehkan keluar rumah.

AULIA

adalah orang-orang yang ditinggikan dan disucikan oleh Allah. Istilah lainnya adalah Wali.




pelatihan seni penyembuhan
RAMALAN




aplikasi android