Senin Kliwon, 9 Maret 2026


Memahami Syahadat Secara Hakekat


Dalam agama Islam, rukun Islam yang pertama adalah dua kalimat syahadat yaitu : "Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah" yang artinya "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah". Sebagian besar umat Islam biasanya hanya mengucapkan syahadat saja namun sedikit yang bisa memahami hakekat syahadat. Syahadat hanya dipahami sebagai ucapan yang harus dilakukan jika ingin beragama Islam.

Arti syahadat adalah penyaksian. Lalu apa yang kita saksikan? Apakah kita menyaksikan Allah? Apakah kita menyaksikan Nabi Muhammad? 

Agar bisa bersyahadat dengan benar, maka kita harus mendalami makna syahadat agar syahadat tidak hanya diucap tapi juga benar-benar menyaksikan. Untuk memahami syahadat, kita harus membuka kitab-kitab para wali seperti kitabnya Syekh Abdul Qodir Jaelani, Syekh Arsyad Al Banjari, Syekh Datuk Sanggul dan kajian makrifat di berbagai tarekat. 

Memahami ilmu syahadat tidak cukup hanya di level syariat saja namun juga harus sampai pada level makrifat agar sempurna memahaminya. Sebagai contoh, kata "Muhammad" pada level syariat dipahami sebagai Nabi Muhammad, namun pada level makrifat dipahami sebagai Nur Muhammad. Antara Nabi Muhammad dan Nur Muhammad adalah adalah hal yang berbeda. 

Jika kata Muhammad pada kalimat syahadat diartikan Nabi Muhammad tentulah kita yang hidup setelah Nabi Muhammad wafat tidak dapat menyaksikan beliau. Apalagi kalimat Syahadat adalah kalimat yang dipahami oleh seluruh Nabi dan Rosul sebelum Nabi Muhammad dan mereka tentu tidak bisa menyaksikan Nabi Muhammad karena Nabi Muhammad belum lahir. 

Untuk memahami hakekat syahadat maka kita perlu memahaminya dengan konsep sebagai berikut :

1. Sebelum Penciptaan Manusia

Dalam kitab Sirrul Asror karya Syekh Abdul Qodir Jaelani, dijelaskan bahwa saat itu Tuhan belum bernama dan yang ada adalah kekosongan. Lalu Tuhan ingin dikenal, maka Tuhan mewujudkan dirinya menjadi Nur Allah. Arti Nur itu nyata, jelas, nyata, wujud. Lalu Tuhan mewujudkan dirinya atau bertajali menjadi Nur Muhammad. Dari Nur Muhammad inilah tercipta alam semesta dan sempurnanya Nur Muhammad adalah pada diri Insan (manusia) dan yang paling sempurna No.1 adalah pada diri Nabi Muhammad SAW.


Baca juga :

Nur Allah (Dzat) dan Nur muhammad (Sifat) walaupun 2 nama tapi hakekatnya 1 (Esa/Ahad) alias tidak berpisah. Dari adanya Nur Allah dan Nur Muhammad kemudian lahirlah kalimat syahadat : 

* Nur Muhammad mengatakan : "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah"
* Nur Allah mengatakan : "Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah"

Karena ruh manusia berasal dari Nur muhammad, maka artinya dahulu kala kita pernah menyaksikan Allah sebagaimana disebutkan dalam surat Al A'raf ayat 172 : "“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.”

Kita juga perlu memahami Nur Muhammad dalam berbagai tahapan yaitu :

- Nur Muhammad menurut Syariat = Ciptaan Allah, hamba Allah.
- Nur Muhammad menurut Tarekat = Cermin Allah, tempat memandang wujudnya Allah.
- Nur Muhammad menurut Hakekat = Wujud Allah.
- Nur Muhammad menurut Makrifat = Allah.

Dari pemahaman diatas akan terjadi perbedaan pendapat antara ulama syariat dengan ulama makrifat. Jika ulama syariat berpendapat antara Allah dan Nur Muhammad atau ciptaanya terpisah maka ulama makrifat berpendapat Allah dan ciptaannya tidak berpisah karena jika berpisah artinya ada 2 wujud dan itu sama saja mengatakan Tuhan tidak Esa padahal tiada yang wujud selain Allah. Inilah pentingnya memahami ilmu islam secara kaffah/menyeluruh dari syariat hingga makrifat agar bisa memahami perbedaan pandangan agar tidak saling sesat menyesatkan pada pihak yang berbeda pandangan.

Lalu bagaimana dengan ulama wahabi yang menyangkal Nur Muhammad karena tidak ada dalam dalil? inilah masalah utama dari golongan wahabi yang tekstual dan berpendapat segala sesuatu harus melihat dari kitab fisik saja. Padahal di jaman Rasul belum ada kitab Al Quran dan belum ada kitab hadist. Bahkan jaman imam 4 mazhab sendiri saat itu belum ada kitab hadist bukhari muslim.

Kalau kita membaca buku para wali, sangat jelas bahwa mereka tidak hanya mengandalkan kitab fisik saja tapi juga ilmu secara ruhaniah yang didapat dari Allah dan Nabi Muhammad. Allah membukakan rahasia diriNya kepada para kekasihNya sehingga kemudian munculah ilmu sifat 20 Allah yang banyak diajarkan oleh ahlusunnah waljamaah. Nabi Muhammad -meskipun sudah wafat- namun sesungguhnya sering menemui para wali dan mengajarkan berbagai macam ilmu maka itulah ilmu yang Haq meski tidak tercantum secara tekstual di kitab.

Sebagai contoh hadist "barang siapa mengenal diri maka akan mengenal Allah" tidak dijumpai di dalam kitab hadist tapi sangat masyhur dikalangan para wali dan ahlussunnah wal jamaah karena memang banyak wali yang bertemu Rasulullah di dalam mimpi maupun saat sadar dan Rasulullah sendiri yang mengatakan bahwa itu hadist beliau. Begitu juga dengan segala macam ilmu makrifat dan zikir-zikir tarekat semuanya adalah ilmu yang diajarkan Allah dan Rosulnya yang disampaikan kepada para Wali dan kemudian wali tersebut menulis kitab dan mengajarkan kepada masyarakat luas.

2. Setelah Penciptaan Manusia.
 
Jasad/fisik manusia merupakan simbol dari Muhammad, dan Ruh manusia adalah simbol dari Allah. Sehingga manusia bersyadahat dengan pemahaman sebagai berikut :  

* "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah" -→ yang nyata dan wujud pada diri manusia berupa RUH
* "Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah" → yang nyata dan wujud pada diri manusia berupa Jasad

Jadi kalimat syahadat hakekatnya adalah Allah bersaksi atas diriNya sendiri karena Allah dan Muhammad tidaklah berpisah. Allah mengutus Muhammad artinya Allah mengutus diriNya sendiri dalam wujud Muhammad (Insan). Oleh karena itulah dalam hadist Qudsi, Allah mengatakan : Al Insanu Sirru wa anna sirrahu (manusia itu rahasiaKu dan Akulah rahasianya Insan). Kesimpulannya adalah Allah itu namaKu dan Muhammad adalah WujudKu.

Permainan (game) yang diciptakan Allah dunia ini untuk manusia adalah bagaimana agar manusia mencari dan menemukan Allah dan Muhammad pada dirinya. Pertanyaan kubur seperti "Siapa Tuhan dan nabi mu" adalah pertanyaan yang harus dicari jawabannya ketika masih hidup karena kuburan itu adalah jasad dan yang terkubur adalah ruh.

Tidak heran banyak manusia yang kemudian mencari Tuhan kesana kemari (gunung, laut, tempat keramat dll) namun sedikit yang tahu bahwa Tuhan dan Muhammad ternyata ada didalam dirinya sendiri. Hal ini sesuai dengan hadist Nabi : Man arrofa nafsahu faqod arrofa robbahu (barang siapa mengenal diri maka akan mengenal Tuhannya).

Mengaplikasikan Syahadat Dalam Sholat

Jika sudah memahami syahadat seperti penjelasan diatas, maka saat sholat, pahami hal berikut ini:

* Muhammad (jasad) menyembah pada Allah (Ruh). Ruh adalah imam, jasad adalah makmum. Ruh yang menggerakan jasad dalam sholat.

* Sifat (Muhammad) menyembah pada Dzat (Allah). Sifat dan Dzat tidak berpisah, maka sholat itu hakekatnya Allah menyembah diriNya sendiri. Yang menyembah dan disembah adalah satu. Maka saat sholat fokusnya adalah pada diri sendiri dengan menyadari bahwa syadahat ada didalam diri. 

Maka agar sholat itu bertauhid, pahami bahwa tiada yang menggerakan jasad dalam sholat kecuali Allah. Kalau kita masih mengaku yang takbir, ruku, sujud maka sholatnya belum bertauhid karena masih ada keakuan diri yang merasa bisa menggerakan dalam sholat. Sesungguhnya puncak ibadah itu (sholat, puasa, haji, sedekah dll) adalah IKHLAS yaitu jangan merasa diri yang melakukan itu semua melainkan Allah lah yang menggerakan itu semua di dalam diri kita. 

Fanakan dirimu, tiadakan dirimu karena yang ada hakekatnya cuma Allah. Manusia hanyalah wayang bagi Allah, manusia hanyalah bayanganNya. Inilah makna "La haula wala quwwata illa billah" manusia itu tiada daya dan upaya kecuali Allah yang menjalankannya.

Hakekat Sholawat

Sholawat secara makna syariat adalah doa dan pujian yang dibacakan untuk Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk penghormatan dan cinta, yang juga berarti memohon rahmat serta kesejahteraan dari Allah SWT untuk beliau. Secara etimologi, "sholawat" berasal dari bahasa Arab yang berarti doa. Sholawat juga dipahami sebagai ungkapan rasa hormat dan cinta umat Muslim kepada Nabi Muhammad SAW. Contoh sholawat misalnya : "Allahumma sholli 'ala Muhammad" yang artinya "Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad". Jadi dalam hal ini sholawat ditujukan kepada baginda Nabi Muhammad sebagai bukti kecintaan dan keimanan umat Islam yang pada akhirnya akan membawa manfaat kembali kepada mereka yang bersholawat baik berupa pahala ataupun syafaat kelak diakherat.

Sholawat secara makna hakekat berbeda dengan makna secara syariat. Secara hakekat, sholawat adalah ditujukan kepada Nur Muhammad yang ada pada diri sendiri karena asal muasal manusia adalah dari Nur Muhammad. Nabi Muhammad dengan Nur Muhammad adalah hal yang berbeda dimana alam semesta dan manusia secara umum tercipta dari Nur Muhammad dan sempurnanya Nur Muhammad adalah pada diri manusia dan paling sempurna adalah pada diri Nabi Muhammad SAW. Jadi jika anda bersholawat  "Allahumma sholli 'ala Muhammad" hakekatnya adalah Allah mendoakan/bersholawat pada Nur Muhammad yaitu diri anda sendiri atau dalam pengertian lain Ruh bersholawat atas jasad. Dengan memahami hakekat sholawat maka sempurnalah ilmu sholawat kita karena telah memahami sholawat secara syariat dan hakekat.

Akal Jasmani dan Akal Ruhani

Perbedaan manusia dengan makhluk lain adalah manusia diberikan akal. Akal jasmani sesungguhnya diciptakan oleh Tuhan adalah untuk memahami sesuatu diluar diri Tuhan sebab jika Tuhan dipahami secara akal jasmani maka justru bukan itulah Tuhan yang sebenarnya. Memahami Tuhan tidak akan pernah bisa hanya dengan menggunakan akal jasmani karena Tuhan adalah diluar akal manusia dan akal jasmani itu memiliki keterbatasan.

Namun demikian, dasar memahami Tuhan bisa dimulai dengan akal jasmani yaitu dengan mempelajari ciptaan Tuhan dan jika nantinya masuk pada pemahaman tentang hakekat/Dzat Tuhan maka manusia tidak bisa menjangkaunya kecuali menggunakan Qolbu atau akal ruhani. Jika akal ruhani ini diberikan pengetahuan oleh Tuhan maka disitulah Tuhan membukakan rahasia diriNya pada manusia yang dikehendakinya sehingga manusia tersebut akan mampu untuk makrifat atau mengenal Allah dengan yang sebenar-benarnya.

Jadi jangan hanya mengandalkan akal jasmani saja dalam mempelajari agama namun akal ruhani pun harus diberdayakan agar Allah dan RosulNya memberikan petunjuk kepada kita. Proses untuk memberdayakan akal ruhani adalah dengan cara mempraktekan tauhid dalam setiap aktivitas sehari-hari yang bisa anda baca di https://ramalanartinama.com/artikel-ilmu-selamat-menghadapi-kematian.html. Jika sudah membiasakan diri bertauhid, Insya Allah akan terbuka qolbu atau akal ruhani dalam diri kita. Wallahu a'lam bishawab.






oke news_detail.php


DEWA

Sesuatu yang dipuja-puja, misalnya mahluk gaib yang memiliki kekuasaan diatas manusia. Disebut dewi jika mahluk tersebut perempuan. Dewa dalam kisah pewayangan diantaranya Bhatara Guru, dewanya para dewa. Bathara baruna, dewa penguasa lautan, Bhatara Agni, penguasa api. Bhatara bayu, penguasa angin, bhatara candra, penguasa rembulan, bhatara surya, penguasa matahari. Dari kalangan dewi ada juga dewi laksmi yaitu dewi keindahan, dewi ratih yaitu dewi asmara dan dewi pertiwi yaitu dewi bumi.

PATI GENI

Puasa Patigeni hampir sama dengan puasa Ngebleng. Perbedaanya ialah tidak boleh keluar kamar dengan alasan apapun, tidak boleh tidur sama sekali. Biasanya puasa ini dilakukan sehari semalam, ada juga yang melakukannya 3 hari, 7 hari dst. Jika seseorang yang melakukan puasa Patigeni ingin buang air maka, harus dilakukan didalam kamar (dengan memakai pispot atau yang lainnya). Ini adalah mantra puasa patigeni : "niat ingsun patigeni, amateni hawa panas ing badan ingsun, amateni genine napsu angkara murka krana Allah taala".




pelatihan seni penyembuhan
RAMALAN




aplikasi android