Kamis Kliwon, 6 Oktober 2022


Biografi Paranormal Ki Joko Bodo


ki joko bodo

Ki Joko Bodo memiliki nama asli : Agung Yulianto. Ki Joko Bodo Tempat lahir di Singaraja, Bali Hari/Tanggal Lahir : Rabu Pon/11 Juli 1962. Namun demikian,  Ki Joko Bodo mengaku bahwa umur aslinya adalah 4 Abad Lebih. Ki Joko Bodo beralamat di Istana Wong Sintinx Lubang Buaya Pondok Gede, Jakarta Timur. Adapun motto hidup Ki Joko Bodo adalah : "Jangan kau anggap remeh terhadap apa yang kau peroleh sekarang, sebab dari kerikil akan dapat menumpuk menjadi sebuah gunung". Ajaran Ki Joko Bodo adalah :

  • Tidak boleh mencela Tuhan
  • Tidak boleh mencela alam semesta
  • Tidak boleh mencela tumbuhan dan binatang
  • Tidak boleh mencela makanan
  • Tidak boleh mencela manusia dan karyanya
  • Tidak boleh mencela paham orang lain orang yang beragama
  • Tidak boleh merusak orang yang berbudaya

Ki Joko Bodo Sejak Kecil Suka Bertapa 

Sosok spiritualis yang satu ini tergolong nyentrik. Rambutnya panjang terura dan sering membuat kejutan-kejutan di luar nalar. Ki Joko Bodo adalah salah satu paranormal yang terkenal di Indonesia dan ysering muncul di berbagai acara di TV swasta. Sejak kecil spiritualis Jakarta yang bernama asli Agung Yulianto SE, atau yang lebih dikenal dengan julukan Ki Joko Bodo, ini sudah mempunyai kebiasaan aneh. Hal itu tidak berlebihan, sebab lelaki yang suka mengecat rambut panjangnya itu lahir di Pulau Dewata, Bali. Tak heran bila dia sudah terbiasa berhubungan dengan dunia gaib. Di masa remaja, dia sering dimintai bantuan oleh teman-temannya untuk meramal nasib. Karena tebakannya sering jitu, membuat Ki Joko Bodo terus berusaha mengasah ketajaman mata batinnya. 

Dia mendatangi tempat-tempat keramat untuk melakukan semedi (bertapa). Dari bertapa itulah, akhirnya dia mendapatkan berbagai ilmu gaib yang sekarang ini digelutinya. Karena saking banyaknya tempat-tempat keramat yang disinggahinya, Ki Joko Bodo, sampai lupa menyebutkan satu persatu. Lelaki yang pernah membongkar kasus rencana peledakan bom di Taman Mini Jakarta itu, mengungkapkan kalau pengasahan ketajaman mata batinnya tersebut bersumber dari kekuatan alam. 


Baca juga :

Di samping bertapa di tempat-tempat keramat, sejak kecil Ki Joko Bodo, sering mengasah batinnya dengan melakukan ritual puasa pathi geni, ngrowot, mutih, dan puasa ngalong. Dengan ritual puasa itu, penguasaan ilmu gaib Ki Joko Bodo terus bertambah, terutama soal rogo sukmo dan penguasaan indra keenam. Seiring dengan kematangan olah spiritualnya, Ki Joko Bodo—yang saat itu usianya beranjak 25 tahun, mencoba memberanikan diri terjun ke dunia supranatural. Hal itu dilakukan karena dia sudah merasa matang dalam melakukan ritual di beberapa tempat keramat di Nusantara ini. Tidak hanya itu saja, saat itu dia berharap bisa membantu kaum lemah yang membutuhkan uluran tangan dinginnya. Setelah turun gunung, Ki Joko Bodo ternyata mendapat sambutan hangat dari kalangan masyarakat. Bahkan, sempat mengisi rubrik Konsultasi di beberapa media cetak. 

Saat itu nama Ki Joko Bodo makin melambung di dunia metafisika. Buktinya, banyak kalangan pejabat maupun artis di Ibukota Jakarta, meminta jasanya. Mendapat julukan ahli santet dan guna-guna, ternyata tidak membuat gentar Ki Joko Bodo dan bernasib naas seperti yang dialami oleh dukun-dukun santet di Banyuwangi, Probolinggo, Pasuruan, maupun Madura, Jatim, yang kebanyakan meninggal dunia karena dibantai dengan tuduhan melakukan penyantetan. Ki Joko Bodo, menganggap ilmu santet maupun pelet bukan ilmu hitam. Ilmu itu bisa dikatakan hitam bila dipergunakan untuk tindak kejahatan. Namun, Ki Joko Bodo, mampu memanfaatkan kedahsyatan ilmu santet maupun pelet sebagai media pengobatan. 

Lelaki bertubuh kerepeng ini, juga mengaku sering didatangi pasien yang meminta dirinya melakukan penyantetan dengan imbalan yang menggiurkan. Dalam membantu penyembuhan pasien, Ki Joko Bodo selalu menggunakan sarana air putih. Menurutnya, penyembuhan pasien tidak selalu mempergunakan air, tentunya bergantung pada keluhan penyakit apa yang diderita sang pasien. Kalau dirinya memberi sebilah pusaka, tentunya harus dilakukan ritual-ritual tertentu serta umborampe secara khusus. Dalam melakukan ritual, Ki Joko Bodo tidak pernah memilah-milah hari. Menurutnya, dia tidak mempunyai pantangan dalam melaksanakan ritual atau mengobati pasiennya. Ki Joko Bodo, mengaku kunci utama penyembuhan pasien adalah bergantung pada keyakinan pasien. Bila keyakinan pasien sangat rendah, maka tingkat kesembuhan juga mengalami kesulitan. 

Spiritualis nyentrik ini juga mempunyai baju kebesaran saat melakukan ritual-ritual tertentu maupun ketika melakukan pengobatan. Dalam melaksanakan ritual, Ki Joko Bodo juga sering mendapatkan serangan- gaib. Meskipun dia tidak mempunyai pantangan jam berapa melakukan ritual maupun pengobatan, namun Ki Joko Bodo selalu memilih setelah maghrib merupakan waktu paling keramat dalam melakukan ritual. 

Ki Joko Bodo, mengingatkan para kalangan spiritualis yang sudah mampu menguasai ilmu kanuragan agar tidak dipergunakan sembarangan atau sombong-sombongan. Sebab, berbagai ilmu yang sudah dikuasai itu bisa hilang karena adanya kecerobohan. Lantas bagaimana dengan ilmu santet? Menurutnya, Pertarungan antara kekuatan baik dan jahat tak pernah henti. Demikian juga di alam persantetan. Munculnya kekuatan jahat diimbangi oleh munculnya kekuatan baik para penyembuh. Berbarengan dengan itu tercipta sarana-sarana penangkal santet baik fisik maupun non fisik. Seperti netralisator, cermin, kertas isi rapalan, ataupun pembukaan cakra tubuh. 

Dengan menggunakan telur angsa dan umborampenya, Ki Joko Bodo, mencoba mengeluarkan "sesuatu" yang aneh dalam tubuh pasiennya. Sesudah telur angsa dan umborampe itu ditanam selama tujuh hari, dari dalamnya keluar pernak-pernik yang tidak lazim. Jarum, kaca, uang koin, dan silet. Berbarengan dengan itu sedikit demi sedikit rasa ngilu yang mendera tangan pun berkurang. Aneh bin ajaib, tiga hari kemudian rasa sakit pun lenyap. Pengalaman agak berbeda dialami pasien Ki Joko Bodo, asal Cirebon. Suatu ketika ia menderita penyakit misterius. Tak satu pun dokter yang mampu mengobatinya. Ketika berkonsultasi dengannya, Ki Joko Bodo menyarankan untuk mandi di bak air yang sebelumnya diisi ikan emas. Kendati tak begitu paham, pasien itu melakukan saja anjuran Ki Joko Bodo itu. Lagi-lagi terjadi keanehan. Setiap kali bak mandi itu diberi ikan emas, 2-3 jam kemudian ikan segar itu mati mendadak. Kejadian ini berulang-ulang, sampai akhirnya untuk kesekian kalinya ikan emas yang dimasukkan ke dalam bak tidak lagi mati. Bersamaan dengan itu, penyakit yang diderita pasien terasa hilang dengan sendirinya. Kendati tampaknya tak masuk akal, kejadian macam itu masih sering dijumpai di tengah-tengah masyarakat. Bentuknya bisa macam-macam. Tetapi umumnya bertujuan untuk mencelakakan orang lain dengan cara tidak wajar. Oleh sementara kalangan fenomena ini disebut santet.

Secara lebih jelas, Ki Joko Bodo menyebut santet sebagai benda yang dikirim seseorang untuk mencelakakan orang lain. Tujuannya untuk membuat orang menderita, sakit, bahkan meninggal dunia. Menurut pria yang berpenampilan kalem ini, santet adalah suatu usaha atau perbuatan mempengaruhi atau mengganggu orang lain dengan tujuan tidak baik, menggunakan benda nyata atau kekuatan yang tidak kelihatan. Santet tak lebih dari induksi negatif yang ditujukan untuk mencelakakan orang lain. Atau energi alam yang dipermainkan secara tidak wajar. Pangkal tumbuh kembangnya santet umumnya rasa sakit hati yang entah disadari ataupun tidak, menjadi bagian dari relasi antar manusia. Misalnya, orang sudah berbuat baik, tetapi bisa saja di mata orang lain perbuatan itu diartikan lain. Ketika kemudian muncul kebencian yang tidak bisa diselesaikan melalui cara-cara baik, orang bisa saja berpaling ke santet. Sudah pasti cara ini menyimpang. Oleh karena itu bentuk-bentuk penyantetan pun menjadi tak lumrah. Misalnya dengan mengirimkan sesuatu dengan cara mengendalikan dari jarak jauh. Wujudnya bisa jarum, ani-ani, silet, gabah, kaca, rambut. 

Dalam proses pengiriman santet itu, umumnya si penyantet mempelajari lebih dulu kelemahan-kelemahan calon korban. Pelaksanaan tindak ini pun bermacam-macam waktunya. Mungkin saat hari kematian orang tua atau saudara dekat, bisa juga saat korban dilanda perasaan galau. Ki Joko Bodo melihat malam hari adalah situasi rawan buat korban santet. Alasannya, pada saat itu orang menjadi kurang aktif sementara di alam terjadi perubahan magnetik yang membuat gelombang santet bisa berjalan dengan mudah. Atas dasar pengalaman itu, Ki Joko Bodo membagi penyantet menjadi dua kelompok. Penyantet profesional dan tidak profesional. Yang profesional pun masih dibagi dua lagi. Pertama, bisa langsung menyantet dengan kekuatan batin. Kedua, baru bisa menyantet dengan menggunakan sarana Misalnya minyak, silet, jarum, paku, kawat, benang, kayu peti mati, dan bunga orang mati. 

Ki Joko Bodo menganalisa, benda-benda yang dikirim dengan bantuan makhluk halus itu mengalami proses dematerialisasi (perubahan bentuk). Pada saat dipegang oleh penyantet benda-benda yang akan dikirim itu masih berujud nyata, tetapi dalam perjalanan menuju sasaran bentuk menjadi tak kasat mata. Setelah sampai sasaran benda itu kembali seperti sediakala. Sedang dalam kelompok penyantet yang tidak profesional biasanya diperlukan orang lain untuk menanam sarana santet diam-diam. Jika tidak sempat ditanam, maka cukup dilemparkan saja ke halaman rumah korban. 

Saat ini Ki Joko Bodo sempat dikabarkan sakit cukup lama sehingga kabarnya memutuskan untuk berhenti dari dunia paranormal. Meski demikian, dirinya mengakui masih melakukan praktek hanya saja metodenya diubah menjadi lebih islami sesuai dengan agama yang dianut.








FALAKIAH

ilmu tentang tata surya/perbintangan

GEMBLENG

Ditempa melalui proses pengisian kekuatan gaib.



Advertorial

Grup Telegram Dunia Gaib

belajar metafisika