Senin Legi, 30 Maret 2026


Sejarah Ilmu Hipnotis


ilmu hipnotis

Selama berabad-abad hipnotisme menjadi korban salah pengertian. la diidentikkan dengan takhayul dan ilmu hitam (black magic). Namun toh, hipnotisme tetap tumbuh dan semakin berkembang hingga hari ini. Banyak orang mempelajarinya secara rasional, dan kemudian mempraktikkannya, termasuk mereka yang mempraktikkan ilmu ini dalam dunia hiburan.

Meski demikian, tidak sedikit pula yang masih memandangnya sebelah mata hingga hari ini. Pro kontra tentang hipnotisme pun terus ada mengiringi sejarah dan perkembangannya. Sebenarnya apa itu hipnotisme? Apakah sungguh-sungguh ada kekuatan gaib di belakangnya? Atau semuanya bisa dijelaskan secara ilmiah? 

Sejarah Hipnotis 

Hipnotis sudah dikenal peradaban manusia sejak berabad-abad yang lalu. Naskah-naskah kuno dari India, Mesir, Yunani, Arab, dan lain-lainnya sudah mengenal teknik memusatkan pikiran dan cara memengaruhi orang lain melalui alam bawah sadarnya. Namun pada saat itu hipnotisme mulai dikaitkan dengan ilmu hitam. Hal ini disebabkan belum adanya penelitian secara ilmiah tentang metode penyembuhan pasien dengan cara-cara yang dianggap tidak wajar, seperti usapan-usapan, peletakan tangan, dan lain-lain.


Baca juga :

Catatan tertua tentang hipnotis berasal dari Erbes Papyrus yang menjelaskan teori dan praktik pengobatan bangsa Mesir kuno pada 1552 SM. Dalam naskah itu diceritakan tentang sebuah kuil yang dinamai "Kuil Tidur", di sana para pendeta mengobati pasiennya sambil mengucapkan sugesti untuk penyembuhan. Penduduk setermpat percaya bahwa para pendeta itu memiliki kekuatan. Di sebuah dinding kuil di India juga ditemukan gambar suatu proses pengobatan pada saat pasien dalam kondisi trans yang dicapai melalui suatu tarian atau  gerakan-gerakan monoton dalam acara ritual penyembuhan.

Dan ternyata raja-raja diberbagai belahan bumi di masa lalu, banyak yang mempraktikan cara pengobatan dengan sugesti. Mereka adalah raja mesir yang bernama Pyrrhus, kaisar Vespasian hingga Charles X. Pada tahun 1500-an Paracelcus memperkenalkan istilah "magnetisme" yaitu memanfaatkan magnet untuk menyembuhkan pasien. Cara pengobatan ini kemudian diadopsi dan dikembangkan oleh Mesmer. 

Pada abad 18 hipnotisme modern mulai muncul. Diawali dari seorang pendeta Katolik, Gassner, yang tinggal di sebelah timur selandia baru. Gasner mengamati seseorang yang dianggap kerasukan setan. Untuk menyembuhkan orang tersebut, setan harus dikeluarkan dari tubuh. Berbeda dengan para penyembuh yang pada zaman itu menutup diri dari tinjauan medis, Gassner mempersilakan para dokter mengobservasi cara penyembuhan yang dilakukannya. 

Yang dilakukan Gassner adalah meminta para pasien duduk berjajar. Seorang asisten Gassner memberikan ceramah, dan mengatakan pada para pasien bahwa jika Gassner menyentuhkan tongkat salibnya ke badan mereka, maka mereka akan tersungkur ke lantai dan tidak sadarkan diri. Dan ketika Gassner menyentuhkan tongkatnya, para pasien tersebut benar-benar tersungku tidak sadarkan diri. Dan ketika pasien itu dibangunkan, maka mereka seperti dilahirkan kembali dalam kondisi suci dan bebas dari setan. 

Salah seorang penganut Paracelcus adalah Anton Mesmer, seorang dokter abad 18 yang mendapat gelar dokter dari universitas di Wina dengan desertasi mengenai pengaruh tenaga magnetis planet-planet terhadap badan manusia dan bumi. Mesmer mula-mula menyembuhkan orang sakit dengan usapan magnet dan kemudian meletakan tangan sambil memindahkan fludium (cairan magnetis) yang menurut Mesmer mengalir dari badannya. Ia tinggal di Paris dimana banyak murid-muridnya mempraktikan cara penyembuhan tersebut dengan semangat menyala-nyala. 

Salah seorang siswanya yang bernama Puysegur menemukan, bahwa dengan passe-passe (gerak-gerak tangan) magnetis bisa ditimbulkan dalam keadaan tidur (somnambule). Dan dengan cara demikian bisa ditimbulkan pula kekejangan pada badan. Setelah tahun 1820, ketika Du Potet yang mashur dan Abbe Faria, dengan hipnotisme (yang telah berkembang dari ajaran Mesmer) mendapat hasil-hasil yang sangat mengagumkan. Meskipun mendapat perlawanan hebat, Du Potet berhasil memaksa tabib-tabib di Rumah Sakit Salpetriere di Paris mempelajari lagi hipnotisme. Setelah mereka menyelidiki gejala-gejala yang ditimbulkan oleh Du Potet, mereka terpaksa mengakui bahwa tidak ada penipuan atau muslihat sedikit pun. Akan tetapi Du Potet dalam banyak hal masih menggunakan passe-passe magnetis untuk menghipnotis. 

Banyak ilmuwan kemudian mempelajari hipnotisme secara ilmiah dan mereka menemukan bahwa ada kaitan antara otak, kondisi alam bawah sadar dan sugesti. Penjelasan ilmiah tersebut yang kemudian meruntuhkan mitos dan cerita mistis dibalik praktek hipnotis.







LUCIFER

artinya sama dengan "iblis"

TAREKAT

Kata tarekat adalah berasal dari bahasa Arab thariqah, jamaknya tharaiq, yang berarti: (1) jalan atau petunjuk jalan atau cara, (2) Metode, system (al-uslub), (3) mazhab, aliran, haluan (al-mazhab), (4) keadaan (al-halah), (5) tiang tempat berteduh, tongkat, payung (amud al-mizalah). Menurut Al-Jurjani Ali bin Muhammad bin ?Ali (740-816 M), tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta?ala melalui tahapan-tahapan/maqamat. Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah. Bila ditinjau dari sisi lain tarekat itu mempunyai tiga sistem, yaitu: sistem kerahasiaan, sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk, syekh atau mursyid, wali atau qutub. Kedudukan guru tarekat diperkokoh dengan ajaran wasilah dan silsilah. Keyakinan berwasilah dengan guru dipererat dengan kepercayaan karamah, barakah atau syafa?ah atau limpahan pertolongan dari guru.




pelatihan seni penyembuhan
RAMALAN




aplikasi android